Tidak ada jalan yang rata bagi mereka yang melarikan diri dari neraka.
Kala memapah Gayatri menyusuri tepi Sungai Buta jalur air bawah tanah raksasa yang selama berabad-abad menjadi urat nadi pembuangan limbah Keraton Atas. Di sebelah kiri mereka, arus air berwarna kelabu kental mengalir deras, membawa pusaran buih kuning berbau pesing dan karat. Di sebelah kanan, dinding tebing batu andesit menjulang gelap, dipenuhi lumut tebal yang licin dan akar-akar gantung yang membusuk.
Setiap langkah adalah siksaan. Kaki kiri Kala menyeret, sementara napasnya berderik pelan karena dua tulang rusuknya yang retak bergesekan setiap kali ia menghirup udara lembap. Di pelukannya, tubuh Gayatri terasa semakin dingin. Putri Penenun Mantra itu telah menguras setiap tetes energi magis dan darah dari nadinya semalam. Wajahnya sepucat mayat, dan kain perca yang membalut telapak tangan kirinya telah basah oleh rembesan darah kehitaman.
Namun, yang mendorong mereka terus melangkah bukanlah kekuatan fisik, melainkan secercah pendar cahaya kebiruan di ujung terowongan panjang itu. Cahaya dari dunia luar.
"Airnya... terasa lebih dingin," bisik Gayatri, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh arus sungai. Ia mendongak lemah, menatap embun air yang menempel di dinding batu. "Kita sudah melewati batas fondasi luar keraton, Kala."
Kala mengangguk pelan, menyeka campuran keringat dan darah kering dari pelipisnya dengan punggung tangan kirinya yang masih terbalut sisa sarung tangan besi cair. "Mpu Dirga pernah bercerita. Ujung dari Sungai Buta ini adalah sebuah bendungan tua yang memisahkan tebing bawah tanah dengan hutan belantara di permukaan. Kalau kita bisa melewati bendungan itu, tidak ada satu pun anjing priyayi yang bisa melacak jejak kita di hutan lebat."
Mereka terus merayap menyusuri tepian berbatu yang sempit. Suara gempa susulan sesekali terdengar bergemuruh dari arah reruntuhan Candi Sengkala di belakang mereka, merontokkan debu dan kerikil dari langit-langit goa.
Setelah setengah jam berjalan penuh penderitaan, terowongan batu itu melebar, membuka ke sebuah gua raksasa yang setengahnya terendam air.
Di ujung gua, cahaya matahari menembus dari celah-celah pilar jeruji besi raksasa yang berkarat. Itulah Pintu Tirta gerbang air bendungan yang dirancang untuk menyaring sampah raksasa agar tidak menyumbat aliran sungai ke luar tebing. Cahaya dari luar memantul di atas permukaan sungai, menciptakan riak-riak keemasan yang menyilaukan mata Kala.
Namun, langkah Kala mendadak terhenti. Ia menarik Gayatri ke balik bayangan bongkahan batu stalagmit raksasa.
Di atas platform batu bata yang mengapit tuas penggerak gerbang besi itu, berdiri empat orang pria bertubuh kekar. Mereka tidak mengenakan zirah baja hitam elit seperti prajurit di dalam altar, melainkan mengenakan kutang kulit badak dan celana pangsi selutut, dengan tato bergelombang menutupi seluruh lengan dan leher mereka. Di pinggang mereka terhunus kelewang panjang bermata lebar.
"Pancalang Sungai," desis Kala tajam, matanya menyipit mengamati formasi mereka. "Penjaga batas luar Keraton. Mereka pasti tidak tahu kalau Patih Danurdara sudah hancur. Tapi mereka tahu ada yang tidak beres dari gempa semalam, dan mereka mengunci gerbangnya."
Gayatri mengintip dari balik bahu Kala. Ia memejamkan mata, mencoba memanggil sisa Arah Mantra untuk mendeteksi aura musuh. "Mereka bukan manusia biasa, Kala... Mereka meminum air dari saringan limbah Antaboga. Otot mereka kebal terhadap senjata tajam biasa, meski tidak sekuat Telik Sandi. Aku... aku tidak punya sihir lagi untuk melindungi kita."
"Tugasku yang melindungimu sekarang, Putri," potong Kala pelan.
Kala menatap nanar ke arah sabuknya. Botol asam konsentratnya sudah habis untuk membakar sang Patih. Kantung serbuk mesiunya kosong. Tiga Susuk Guntur andalannya sudah ia ledakkan di dada prajurit dan Sang Telik Sandi. Yang tersisa di tangannya hanyalah paku rajah meteorit hitam berlapis kerak darah, dan otak liciknya yang ditempa di jalanan paling keras di Nusantara.
Kala memejamkan mata, memutar otak. Ia memperhatikan lingkungan sekitarnya. Gemuruh air. Cahaya matahari dari celah jeruji besi. Dan... sebuah drum kayu berukuran raksasa yang menggantung miring di atas rantai katrol, tak jauh dari posisi keempat penjaga itu. Drum itu berisi tawas dan minyak tanah murahan yang biasa digunakan penjaga untuk membakar tumpukan sampah kayu yang tersangkut di jeruji bendungan.
"Tunggu di sini," bisik Kala. Ia melepaskan sisa jubah lusuhnya, menyisakan celana kain dan dada telanjangnya yang dipenuhi memar biru keunguan. "Jangan keluar sampai aku berhasil memutar tuas gerbangnya."
Tanpa menunggu jawaban Gayatri, Kala menyelinap ke dalam air sungai yang dingin membekukan.
BYUR.
Suara ceburan Kala tertelan oleh gemuruh arus deras. Bau busuk limbah dan asam seketika menyerang hidungnya, menyengat luka-luka terbuka di sekujur punggungnya. Ia menahan napas, membiarkan tubuhnya tenggelam ke dasar sungai yang dangkal, dan merayap perlahan melawan arus, bersembunyi di balik bayangan air yang keruh pekat.
Di atas platform, keempat Pancalang itu tampak gelisah.
"Kau dengar gemuruh dari pusat keraton tadi malam?" ujar salah satu dari mereka, mengunyah sirih hingga mulutnya merah bagai berdarah. "Aku bersumpah melihat langit-langit runtuh. Patih pasti telah membangunkan sang naga."
"Tutup mulutmu dan perhatikan jerujinya," gertak pemimpin mereka, seorang pria dengan codet panjang melintang di wajahnya. "Tugas kita memastikan tidak ada tikus Kota Akar yang berani kabur mengambil kesempatan dari kekacauan ini."
Tepat saat pemimpin itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan yang basah kuyup dan berlumur lumpur kelabu melesat dari tepi platform batu.
Tangan itu mencengkeram pergelangan kaki salah satu penjaga yang berdiri paling dekat dengan bibir sungai. Sebelum pria bertato itu sempat berteriak, Kala menyentakkannya dengan tenaga penuh ke dalam air.
SPLASH!
Pria itu terseret masuk ke dalam sungai limbah. Di bawah permukaan air yang keruh, Kala tidak membuang waktu. Ia tahu kelewang musuhnya tidak berguna di dalam air yang pekat. Dengan gerakan mematikan yang efisien, Kala menusukkan paku rajah meteoritnya tepat ke bawah rahang sang penjaga, menembus langsung ke pangkal otaknya. Darah segar seketika mewarnai air menjadi merah gelap.
Kala melepaskan mayat itu, membiarkannya hanyut terbawa arus.
"Sandi?! Di mana kau?!" teriak pemimpin Pancalang dari atas platform, menyadari anak buahnya menghilang dalam sekejap mata. Tiga penjaga tersisa segera menghunus kelewang mereka, bergerak mendekati bibir platform.
Kala tahu ia tidak bisa melawan tiga orang sekaligus dengan fisik yang sudah hancur. Ia merayap dari bawah air menuju tiang kayu penyangga tempat rantai katrol menahan drum minyak raksasa.
Dengan sisa napas di paru-parunya, Kala melompat keluar dari air.
PRAK!
Bukannya menyerang penjaga, Kala menghantamkan paku meteoritnya sekuat tenaga ke arah mata rantai besi berkarat yang menahan drum tersebut. Logam meteorit beradu dengan besi berkarat, memercikkan bunga api kecil dan mematahkan cincin rantai pengunci.
Drum kayu raksasa seberat ratusan kilogram itu terlepas. Benda itu berayun dan menghantam keras platform batu bata tempat ketiga penjaga itu berdiri.
BRAK! KRAAAAK!
Drum itu pecah berantakan. Minyak tanah murahan dan serbuk tawas seketika membanjiri lantai batu, mengguyur tubuh dua orang penjaga hingga basah kuyup. Mereka terpeleset jatuh, kebingungan dan terengah-engah dalam bau minyak yang menyengat tajam.
Sang pemimpin dengan codet di wajahnya berhasil melompat mundur. Matanya yang merah menatap liar, mencari pelakunya. Pandangannya langsung terkunci pada Kala yang baru saja menarik tubuhnya naik ke atas platform, terengah-engah dan basah kuyup.
"Tikus selokan berani mencari mati!" raung sang pemimpin. Otot-ototnya yang dilapisi tato mengencang, memancarkan aura panas. Ia menerjang maju, mengayunkan kelewang panjangnya secara vertikal untuk membelah kepala Kala menjadi dua.
Kala tidak punya senjata panjang untuk menangkis. Ia tidak menghindar ke samping. Sebaliknya, ia meluncur menjatuhkan dirinya ke depan, melintasi genangan minyak tanah di lantai platform.
Sabetan kelewang itu meleset, hanya memotong udara kosong di atas punggung Kala.
Kala memanfaatkan momentum luncurnya. Saat ia berada tepat di bawah kaki sang pemimpin, ia menghantamkan paku meteoritnya ke lantai batu andesit tepat di atas genangan minyak tanah.
Gesekan meteorit murni dan batu alam memicu sepercik bunga api oranye.
Di tengah genangan minyak tanah dan oksigen lembap goa, percikan sekecil apa pun adalah pemicu neraka.
FWOOOOOOSH!
Lantai platform itu seketika meledak dalam kobaran api yang dahsyat. Dua penjaga yang tubuhnya basah oleh minyak langsung dilalap api, menjerit histeris sambil berlarian tanpa arah sebelum akhirnya tercebur ke dalam sungai deras.
Sang pemimpin ikut tersambar. Celana pangsi dan kutang kulitnya terbakar hebat. Ia menggeram marah, mencoba memadamkan api yang memanggang kulit tatonya, menahan rasa sakit yang menembus otot kebalnya. Namun, rasa sakit itu memberinya satu detik kelengahan.
Satu detik yang cukup bagi Kala.
Kala bangkit dari sisa genangan yang tidak terbakar, melentingkan tubuhnya, dan menancapkan paku meteorit hitam berlapis kerak darah itu lurus menembus leher sang pemimpin Pancalang.
Suara robekan daging dan darah yang menggelegak menyatu dengan gemuruh api. Mata sang pemimpin terbelalak ngeri, menatap mata Kala yang sinis dan tak berkedip, sebelum akhirnya tubuh besar itu ambruk menimpa tuas besi raksasa pengendali gerbang.
Kala mencabut pakunya, terbatuk keras sambil memegangi rusuknya yang serasa mau patah. Asap hitam dari pembakaran minyak membuat napasnya sesak.
"Gayatri! Kemari!" teriak Kala dengan suara seraknya.
Gayatri berlari keluar dari balik stalagmit, menyusuri tepian sungai dengan langkah terpincang, dan naik ke atas platform yang separuhnya masih terbakar. Gadis itu menatap tumpukan mayat dan api dengan ekspresi datar—ia telah terbiasa dengan kematian dalam semalam ini.
"Bantu aku putar tuas ini," gertak Kala.
Mereka berdua mencengkeram tuas besi bundar yang telah berkarat. Tenaga Kala sudah di batas limit, dan Gayatri nyaris tidak punya tenaga fisik. Namun, dengan jeritan frustrasi dan amarah pada takdir yang menindas mereka, mereka mendorong tuas itu bersama-sama.
KREEEEKK... GROAAAAKKK!
Roda gigi raksasa di dalam dinding tebing berputar paksa. Jeruji besi raksasa yang menahan aliran sungai perlahan-lahan terangkat naik.
Suara gemuruh air seketika berubah. Arus sungai yang semula tertahan kini mendesak keluar dengan kekuatan brutal, menciptakan pusaran pusaran air yang menyapu segala sampah dan sisa mayat penjaga keluar dari goa.
"Pegang tanganku!" teriak Kala, saat air sungai mulai meluap menyapu platform tempat mereka berdiri.
Gayatri merangkul pinggang Kala erat-erat. Kala mencengkeram rantai katrol, menahan tubuh mereka dari sapuan arus deras yang menggila. Mereka memejamkan mata, membiarkan percikan air dingin menghantam wajah mereka, mencuci habis darah, jelaga, dan kutukan dari Keraton Atas.
Ketika gemuruh air mulai stabil dan level sungai menurun melewati ambang pintu, Kala perlahan membuka matanya.
Jeruji besi itu telah terbuka sepenuhnya. Lorong goa yang sempit telah berakhir.
Kala melepaskan pegangannya pada rantai, dan memapah Gayatri melangkah melewati ambang batas gerbang batu tebing tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, telapak kaki mereka tidak menginjak batu andesit atau lantai kayu jati pelitur. Telapak kaki mereka menginjak tanah berlumpur yang gembur, rumput liar yang basah oleh embun, dan akar-akar pohon pakis yang menjalar bebas.
Mereka telah keluar.
Di hadapan mereka, terhampar lanskap yang membuat napas mereka berhenti. Sebuah hutan belantara yang teramat lebat dan hijau membentang sejauh mata memandang. Pohon-pohon mahoni dan beringin raksasa menjulang tinggi, kanopinya ditembus oleh pedang-pedang cahaya matahari pagi yang keemasan. Kabut putih tipis melayang rendah di atas tanah, menciptakan nuansa magis yang liar dan tak tersentuh.
Suara burung-burung asing berkicau bersahutan, menggantikan suara derit besi dan jeritan Kota Akar. Aroma udara di sini begitu bersih, begitu murni, hingga membuat paru-paru Kala terasa perih saat menghirupnya.
Kala menjatuhkan paku meteoritnya ke tanah rerumputan. Pemuda sinis yang selalu mengandalkan bayangan dan abu tempa itu, kini berdiri menantang cahaya fajar. Kakinya lemas, dan ia pun jatuh bertumpu pada kedua lututnya.
Gayatri ikut bersimpuh di sampingnya. Putri bangsawan yang kehilangan kerajaannya itu membiarkan air mata hangat mengalir membasahi pipinya yang kotor. Bukan air mata duka, melainkan tangis kebebasan.
"Kita berhasil," bisik Gayatri bergetar, wajahnya menengadah merasakan hangat sinar matahari di wajahnya. "Kita meninggalkan semuanya di belakang."
Kala tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia menoleh menatap hutan lebat Nusantara yang menyimpan sejuta misteri di balik kabut paginya. Dunia di luar tebing ini jauh lebih mematikan, penuh dengan mitos, kerajaan asing, dan mungkin naga-naga lain yang belum terbangun.
Tapi untuk pagi ini, setidaknya, mereka merdeka.
"Perjalanan kita baru saja dimulai, Putri," gumam Kala pelan, membiarkan angin hutan membelai wajahnya.