← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 16 of 18

BAB 15: Runtuhnya Langit-langit Batu

by The Arc

Candi Sengkala tidak lagi terasa seperti reruntuhan bawah tanah; tempat itu kini menjelma menjadi rahang neraka yang terbuka lebar. Batu-batu stalaktit seukuran menara pengawas runtuh berjatuhan dari langit-langit, menghantam parit magma dan memuncratkan gelombang lahar panas ke segala arah. Udara mendidih, membakar oksigen hingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan bara api.

Di tengah guncangan gempa bumi yang meretakkan fondasi dunia, Patih Arya Danurdara melolong dalam ekstase yang gila.

Sang Patih telah sepenuhnya kehilangan sisa-sisa kemanusiaannya. Lengan kirinya yang bermutasi kini membengkak, dilapisi sisik naga setebal pelat baja yang bersinar kemerahan dari dalam. Ia menerjang pilar ketiga, tempat seorang wanita tua salah satu bibi Gayatri dirantai dalam kondisi setengah sadar. Tanpa ampun, cakar mutasi Danurdara merobek dada wanita malang itu. Darah suci kembali menyembur, tersedot ke dalam parit ukiran yang mengalir deras menuju pusat Watu Gilang.

KRAAAKKK! BOOMMM!

Raungan Antaboga dari kedalaman bumi terdengar semakin memekakkan telinga. Pilar cahaya merah yang menyorot dari langit-langit kawah semakin melebar. Rantai gaib kedua yang membelenggu sang naga bumi hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang menguap di udara. Gelombang energi magis yang dilepaskannya menyapu Candi Sengkala, melempar sisa-sisa mayat prajurit keraton ke dalam lautan magma.

"Dua rantai telah putus!" raung Danurdara, tawanya bergema tumpang tindih dengan suara gemuruh bumi. "Berikan aku yang ketiga! Berikan aku inti jantungnya!"

Di seberang altar, Gayatri terbaring tengkurap. Ujung gaun sutranya telah hangus terbakar. Wajahnya dipenuhi debu dan darah, namun matanya yang keemasan menatap nyalang ke arah Kunci Jarum Tulang yang tergeletak hanya beberapa inci dari bibir parit magma yang menggelegak.

Gadis itu memaksakan tangannya merayap maju. Ujung jemarinya melepuh akibat hawa panas batu andesit, namun ia terus menyeret tubuhnya yang hancur.

Satu jengkal lagi... batin Gayatri, mengertakkan giginya hingga gusi-gusinya berdarah.

Namun, sebelum jemari Gayatri berhasil menyentuh Jarum Tulang, sebuah bayangan raksasa menutupi tubuhnya. Patih Danurdara telah melompat dari altar, mendarat dengan suara debuman keras yang menggetarkan lantai tepat di hadapan Gayatri.

Hawa panas dari tubuh Danurdara membuat udara di sekitarnya beriak. Matanya kini sepenuhnya berwarna kuning reptil dengan pupil vertikal yang menyipit bengis.

"Keluargamu adalah bahan bakar yang luar biasa, Putri," gertak Danurdara, mengangkat kaki kirinya yang berlapis zirah untuk menginjak punggung Gayatri. "Dan darah perawanmu akan menjadi kunci penutupnya."

BUUUKKK!

Sebelum sepatu baja sang Patih menghantam Gayatri, sebuah hempasan keras menabrak pinggang Danurdara dari arah samping.

Itu Kala.

Pemuda jalanan itu tidak berlari; ia menerjang dengan sisa tenaga terakhirnya, menabrakkan tubuhnya yang babak belur ke arah sang Patih. Hantaman itu tidak cukup untuk menjatuhkan monster seperti Danurdara, tetapi cukup untuk membuat sang Patih terhuyung satu langkah ke belakang, menjauh dari Gayatri.

Danurdara menunduk, menatap Kala yang kini terkapar di dekat kakinya. Pemuda itu terengah-engah parah, bahu kirinya masih mengucurkan darah segar dari sabetan keris Sang Telik Sandi.

"Kau masih hidup, serangga?" desis Danurdara dengan nada jijik yang teramat sangat. "Telik Sandi keraton terbunuh oleh bocah kotor yang bahkan tidak punya kanuragan. Ini benar-benar penghinaan bagi kaum Priyayi."

"Priyayi..." Kala meludah ke lantai, memuntahkan gumpalan darah merah pekat tepat ke ujung sepatu baja Danurdara. Ia mendongak, menyeringai dengan wajah yang penuh lebam dan luka bakar. "Kalian cuma sekumpulan parasit berkulit halus yang takut pada matahari."

Murka yang absolut meledak di wajah Danurdara. Ia mengangkat cakar mutasinya yang membara, bersiap membelah kepala Kala menjadi dua.

Namun, Danurdara tidak menyadari apa yang baru saja diselipkan Kala ke celah pelat pinggangnya saat pemuda itu menabraknya tadi. Kala tidak menabrak dengan tangan kosong. Ia telah menyelipkan sisa botol porselen berisi asam konsentrat dan segenggam serbuk belerang murni tepat ke bagian daging Danurdara yang membusuk.

Kala memukul lantai batu dengan sisa paku rajah di tangannya, memantik sepercik bunga api kecil yang menyambar serbuk belerang di udara.

FWOOOSH!

Api hijau belerang menyambar asam konsentrat itu. Bukan ledakan besar, melainkan reaksi pembakaran kimiawi yang sangat korosif. Api beracun itu langsung memanggang daging Danurdara yang terekspos dari jarak nol, melelehkan sisik-sisik mutasinya dan membakar saraf-sarafnya yang telah peka oleh kanuragan naga.

"AAARRRGGHHH!" Danurdara meraung mundur, memegangi pinggangnya yang mengepulkan asap hitam dan bau daging terbakar. Rasa sakit dari bahan kimia jalanan itu menembus ilmu kebalnya, mengacaukan fokus sihir perlindungannya.

"Gayatri! Tangkap!" teriak Kala dengan suara pecah.

Dengan tangan kanannya, Kala mencabut bumbung bambu dari sabuknya, lalu melempar wadah berisi Lontar Sisik Antaboga itu ke arah Gayatri.

Gayatri yang baru saja berhasil meraih Jarum Tulang, memutar tubuhnya dan menangkap bumbung bambu itu di udara. Ia memecahkan pelindung bambu itu ke lantai batu, membiarkan gulungan lontar hitam bersampul sisik naga terbentang di hadapannya. Lontar itu bergetar hebat, merespons kebangkitan naga di bawahnya.

Melihat Lontar itu terbuka, Danurdara mengabaikan rasa sakit di pinggangnya. Kegilaannya mengambil alih.

"JANGAN SENTUH LONTAR ITU!" raung sang Patih. Ia melesat maju bagai kereta baja yang mengamuk, melompati Kala, berniat mengoyak dada Gayatri dengan cakar mutasinya. Jaraknya hanya lima meter. Empat meter. Tiga meter. Waktu seolah melambat.

Gayatri tidak mundur. Ia mengangkat Jarum Tulang di tangan kanannya tinggi-tinggi. Ia tidak menusukkannya pada musuh, melainkan menghujamkannya langsung menembus telapak tangan kirinya sendiri, menyerap darah sucinya yang paling murni, sebelum menghujamkan paku tulang itu tepat ke inti gulungan Lontar Sisik Antaboga.

SYLAASSHH!

Keheningan yang hampa seketika menelan seluruh kebisingan Candi Sengkala. Suara gemuruh bumi, gemericik magma, dan raungan sang Patih teredam oleh ledakan sunyi yang menyayat jiwa.

Dari titik di mana Jarum Tulang menembus lontar, pendar cahaya putih murni—bukan emas, melainkan cahaya putih penciptaan yang menyilaukan—meledak membentuk pilar raksasa yang menembus langit-langit kawah.

Cahaya itu menyapu tubuh Danurdara yang sedang melayang di udara.

Sang Patih menjerit dalam frekuensi yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia, melainkan dirasakan oleh tulang. Tubuh raksasanya terhenti di udara, tertahan oleh ribuan untaian cahaya putih yang melesat keluar dari aksara kuno di lontar tersebut. Untaian cahaya itu melilit tubuh Danurdara, mengikatnya bagai kepompong.

Darah naga murni yang mendidih di dalam nadi Danurdara berbenturan keras dengan sihir penyegel tertinggi para Penenun Mantra. Dua energi kosmis purba itu bertarung di dalam tubuh sang Patih.

"Tidakkk! Aku adalah Dewa! Aku adalah bumiii!" rintih Danurdara saat sisik-sisik naga di lengannya mulai retak dan hancur menjadi debu putih. Tubuhnya tidak mampu menahan beban energi penyegelan. Ia sedang dimurnikan paksa dari dalam ke luar. Dalam hitungan detik, tubuh Patih Keraton Atas yang paling ditakuti itu hancur menjadi pusaran debu pijar, menguap tanpa menyisakan sepotong tulang pun.

Untaian cahaya putih dari Lontar tidak berhenti di sana. Cahaya itu melesat ke seluruh penjuru Candi Sengkala, menembus parit-parit magma, dan menyelimuti Watu Gilang. Energi itu merajut kembali rantai-rantai gaib yang sempat putus, memaksanya menembus kembali ke kedalaman bumi, mengikat rahang Antaboga dan menidurkan sang naga bumi secara paksa.

Raungan naga dari dasar kawah perlahan mereda, berganti menjadi dengkuran panjang yang menggetarkan bumi.

Namun, energi yang dihasilkan dari benturan penyegelan itu terlalu masif. Candi Sengkala tidak sanggup menahan fluktuasi gravitasi tersebut.

Lantai batu andesit di bawah mereka terbelah dua. Reruntuhan batu raksasa dari pilar penyangga Keraton Atas mulai runtuh tak terkendali.

Kala memaksakan dirinya merangkak menuju Gayatri. Gadis itu terkapar lemas, napasnya nyaris hilang, tangannya masih menancap pada Jarum Tulang yang kini memudar kembali menjadi tulang kusam. Kala menarik tubuh Gayatri, mendekapnya erat-erat di bawah sisa-sisa lengkungan batu altar saat dunia di sekeliling mereka hancur berkeping-keping.

"Kala..." bisik Gayatri parau, matanya yang lelah menatap langit-langit kawah yang kini runtuh seutuhnya.

Dinding-dinding tebing penyangga yang memisahkan Kota Akar dan Keraton Atas retak luar biasa. Bongkahan tanah seukuran gunung berjatuhan.

Dan di tengah runtuhnya langit-langit batu tersebut, untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun sejarah Kota Akar yang kelam... tebing raksasa yang mengurung mereka terbelah.

Angin malam yang sangat dingin dan segar berhembus masuk, menyapu hawa belerang yang mencekik. Melalui celah raksasa di atas kawah yang runtuh, Kala mendongak dengan napas tertahan. Ia tidak melihat kubah emas Keraton Atas, melainkan melihat hamparan bintang gemintang yang tak terhingga jumlahnya, berkelap-kelip di atas kanvas malam yang biru pekat.

Langit yang sesungguhnya.

Kala tidak tahu apakah besok ia masih hidup atau mati tertimbun reruntuhan. Ia tidak tahu apa nasib Keraton Atas yang sebagian fondasinya telah hancur, atau nasib ribuan penduduk Kota Akar yang kini melihat bintang untuk pertama kalinya.

Sambil mendekap erat sang putri Penenun Mantra di tengah badai batu yang runtuh menelan altar, Kala memejamkan matanya, membiarkan kegelapan malam yang damai menyelimuti kesadarannya yang perlahan memudar.