← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 15 of 18

BAB 14: Susuk vs Kanuragan

by The Arc

Lantai batu andesit di bawah kaki Kala retak membentuk jaring laba-laba. Uap panas menyembur dari rekahan-rekahan tersebut, membawa bau amis darah yang terbakar dan belerang yang mencekik paru-paru. Gempa terus mengguncang Candi Sengkala seiring putusnya rantai gaib pertama Antaboga. Di tengah badai debu vulkanik dan hujan kerikil dari atap kawah, Kala menerjang maju bagai anjing liar yang disudutkan.

Sang Telik Sandi bertopeng merah menyambut terjangan itu dengan ketenangan yang mematikan. Hanya sebelah matanya yang kini terlihat hitam kelam tanpa pupil, memancarkan kedengkian murni dari jiwa yang telah dirusak oleh darah naga.

SWUUUSSH!

Bilah Keris Bisa Peneluh menebas udara mendatar, mengincar perut Kala. Sabetan itu membelah uap panas, menciptakan pusaran angin es Bolo Upas yang membekukan butiran debu di sekitarnya.

Kala menghentikan lajunya secara brutal, menancapkan tumit sepatu botnya ke lantai hingga berderit. Ia melentingkan punggungnya ke belakang, membiarkan ujung keris beracun itu melintas hanya setebal rambut dari perutnya. Hawa dingin dari bilah kutukan itu membekukan kain bajunya seketika.

Sebelum Kala sempat memulihkan keseimbangan, Telik Sandi itu memutar pergelangan tangannya dengan kelenturan yang tidak manusiawi. Pangkal kerisnya menghantam rahang Kala dengan telak.

BUK!

Kala terlempar sejauh dua meter, berguling di atas batu yang memanas. Mulutnya seketika dipenuhi rasa anyir kental. Ia memuntahkan darah dan sebutir giginya yang patah, merangkak bangkit sebelum sepatu bot berbalut zirah sutra musuhnya menginjak kepalanya.

"Kelincahanmu tidak berarti apa-apa di hadapan kekuatan murni, Tikus Tanah," suara parau Sang Telik Sandi menggema dari balik topeng kayunya yang retak. Pria jangkung itu melangkah pelan, membiarkan ujung kerisnya menyeret di atas lantai batu, meninggalkan jejak lelehan asam berasap.

Kala terengah-engah. Tangan kirinya yang mengenakan sarung tangan besi tempa sudah setengah meleleh dan kulit di baliknya melepuh parah. Tangan kanannya mencengkeram erat paku rajah meteorit yang telah dilapisi darah suci Gayatri.

Anehnya, Kala menyadari sesuatu. Setiap kali paku meteorit berdarah itu berada di dekat tubuh Sang Telik Sandi, kerak darah Gayatri di atas baja hitam itu berdenyut pelan, memancarkan pendar keemasan redup. Seolah darah sang Penenun Mantra bereaksi terhadap racun naga yang mengalir di nadi lawannya.

Kanuragan bajingan ini disuplai oleh energi yang sama dengan yang merusak Patih Danurdara, batin Kala cepat. Darah Gayatri adalah penawarnya. Aku cuma butuh satu tusukan. Satu tusukan langsung ke dagingnya.

Di atas altar Watu Gilang yang berjarak belasan meter dari mereka, Patih Danurdara mengangkat cakar mutasinya untuk mencabik dada Penenun Mantra kedua. Gayatri menjerit, merangkak tertatih menyusuri lantai altar yang berlumur darah demi meraih Jarum Tulang. Waktu Kala tidak banyak. Jika rantai kedua putus, gempa ini akan meruntuhkan seluruh atap Candi Sengkala, mengubur mereka semua di dalam lautan magma.

"Hei, Anjing Peliharaan!" teriak Kala, memaksakan seringai bengis di wajahnya yang babak belur. Ia menegakkan tubuhnya, memutar paku rajahnya di antara jari. "Apa rasanya jadi budak yang menelan limbah darah naga setiap hari? Apa itu sebabnya kau selalu bersembunyi di balik topeng kayu murah itu? Karena wajah aslimu sudah membusuk seperti majikanmu?!"

Urat-urat hitam di leher Sang Telik Sandi yang terekspos seketika menonjol hebat. Amarah membanjiri aura kanuragannya.

Dalam satu kedipan, sosok pembunuh elit itu meledak ke depan. Bukan lagi gerakan elegan yang tenang, melainkan terjangan buas seorang predator. Keris di tangannya dihujamkan beruntun dengan kecepatan gila menusuk, menyabet, dan mencabik udara, menciptakan belasan ilusi mata pisau hitam yang mengepung Kala dari segala arah.

Kala tidak mencoba lari. Ia menyambut tarian kematian itu dengan keputusasaan absolut.

TRANG! SRETT! TRANGGG!

Bunga api berhamburan setiap kali paku meteorit Kala menangkis sabetan keris Sang Telik Sandi. Namun, Kala hanya manusia biasa. Kecepatan kanuragan lawannya terlalu tinggi.

Bilah keris menggores bahu kiri Kala, merobek dagingnya seketika. Hawa dingin Bolo Upas menjalar masuk, membekukan aliran darahnya dan membuat lengan kirinya lumpuh seketika. Sabetan kedua menggores pinggangnya, meninggalkan luka bakar menghitam yang berdenyut menyiksa.

"Kau terlalu lambat!" raung Sang Telik Sandi, menghantamkan lutut kirinya telak ke perut Kala.

Napas Kala terputus. Tubuhnya melengkung, organ dalamnya serasa dihancurkan. Sebelum ia roboh, Sang Telik Sandi mencengkeram leher pemuda itu dengan tangan kirinya yang besar, mengangkat tubuh Kala tinggi-tinggi dari atas lantai batu.

Ujung kaki Kala menendang-nendang udara hampa. Cengkeraman pembunuh itu sekuat ragum baja. Keris luk sembilan yang berlumur racun kini perlahan diangkat, diarahkan tepat ke jantung Kala.

"Kata-kata terakhirmu terbukti salah, Bocah Akar," bisik Sang Telik Sandi tepat di depan wajah Kala, matanya yang hitam kelam menatap tanpa belas kasihan. "Kutukan ini tidak akan membunuhku. Tapi keris ini... akan mengantarmu ke neraka tanpa sisa."

Wajah Kala mulai membiru karena kehabisan oksigen. Pandangannya meredup. Namun, melalui sela-sela matanya yang setengah tertutup, Kala melihat pantulan cahaya magma pada bilah keris musuhnya.

Besi itu punya ingatan. Begitu juga otot seorang penempa yang terbiasa menahan rasa sakit demi hasil yang sempurna.

Kala memaksakan sudut bibirnya yang pecah untuk menyeringai. Tangan kirinya yang tadi mati rasa dan meleleh karena racun keris, tiba-tiba bergerak dengan kecepatan mematikan.

Bukan untuk menangkis keris.

Kala menghantamkan telapak tangan kirinya yang dilapisi sisa sarung tangan besi cair langsung ke wajah musuhnya, mencengkeram Topeng Kelana kayu berdarah itu kuat-kuat. Panas dari besi cair di tangannya membakar wajah Sang Telik Sandi dari balik topeng, membuat pria itu melolong kesakitan.

Cengkeraman di leher Kala melonggar sesaat.

Momentum satu detik itu adalah segalanya bagi Kala.

Kala mengayunkan paku rajah meteorit di tangan kanannya dari bawah ke atas. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga di lengannya yang penuh kapalan. Ujung paku hitam berlapis kerak darah keemasan Gayatri itu menembus udara, mengoyak zirah sutra penahan sihir yang robek akibat ledakan mesiu sebelumnya, dan menancap dalam... sedalam-dalamnya, menembus tepat di tengah dada Sang Telik Sandi.

SLUKK!

Waktu terasa berhenti berdetak di Candi Sengkala.

Sang Telik Sandi membeku. Kerisnya tertahan di udara, berjarak dua inci dari dada Kala.

Kala melepaskan cengkeramannya dari topeng, menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai batu yang panas. Ia mendongak, napasnya tersengal parah, darah mengucur deras dari berbagai luka di tubuhnya, menatap mahakarya terakhirnya.

Di dada Sang Telik Sandi, darah suci Penenun Mantra yang melapisi paku meteorit itu bereaksi hebat saat bersentuhan langsung dengan darah naga yang mengalir di jantung sang pembunuh.

Reaksi itu bukanlah sebuah ledakan api, melainkan pemurnian yang brutal.

Cahaya keemasan yang teramat murni dan menyilaukan memancar keluar dari luka tusukan di dada pria itu, seolah sebuah matahari kecil baru saja ditanamkan ke dalam jantungnya. Urat-urat hitam di leher dan lengannya perlahan mendidih, melepuh menjadi warna putih terang.

"ARAAAGHHH! TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU?!" jerit Sang Telik Sandi. Suaranya tidak lagi menggelegar, melainkan melengking penuh teror penderitaan. Tubuhnya mengejang hebat. Kekuatan kanuragan yang selama ini ia banggakan berbalik melawannya, membakar jaringan selnya sendiri saat kutukan naga itu dipaksa hancur oleh keajaiban mantra murni.

Kulit Sang Telik Sandi mulai mengering dan retak seperti tanah kerontang. Asap keemasan mengepul dari setiap celah zirahnya. Topeng kayu merahnya terbelah dua dan jatuh ke lantai, memperlihatkan separuh wajah pria itu yang sudah membusuk dan kini hancur menjadi abu di udara.

Dalam hitungan detik, sosok pembunuh paling ditakuti di Keraton Atas itu terbakar habis dari dalam. Tanpa sisa daging, tanpa sisa darah. Tubuhnya hancur menjadi tumpukan abu putih yang tertiup hawa panas magma, menyisakan sebuah paku rajah meteorit yang jatuh berdenting di atas lantai batu, kembali menjadi baja hitam yang tumpul.

Kala terbatuk keras, memegang bahunya yang berdarah. Ia baru saja mengalahkan iblis bertopeng, tetapi pertarungan sesungguhnya belum selesai.

Kala memaksa kepalanya menoleh ke arah Watu Gilang.

Di atas altar, Gayatri baru saja berhasil meraih Jarum Tulang. Namun, Patih Danurdara, yang terkejut melihat abu putih beterbangan dari arah jembatan batu, menyadari bahwa Telik Sandi andalannya baru saja tewas. Sang Patih menoleh dengan murka yang luar biasa ke arah Kala, lalu matanya beralih menatap Gayatri.

"Kalian merusak segalanya!" raung Patih Danurdara, suaranya kini sepenuhnya terdengar seperti gabungan suara iblis dan manusia.

Sang Patih mengayunkan kaki kirinya, menendang tubuh Gayatri hingga gadis itu terpelanting sejauh lima meter. Jarum Tulang kembali terlepas dari genggamannya, meluncur jatuh, dan berhenti tepat di bibir parit magma yang menggelegak.

Danurdara tidak mengejar Gayatri. Dengan mata memerah dan air liur hitam menetes dari sudut bibirnya, Patih Keraton itu melesat menuju pilar ketiga. Ia akan mempercepat ritualnya dengan membantai sisa keluarga Gayatri tanpa henti.

"Gayatri! Kuncinya!" teriak Kala dengan suara pecah. Ia memaksakan tubuhnya merangkak menembus hujan kerikil panas, menyeret kakinya yang terluka melintasi jembatan batu menuju altar, menyongsong Kiamat yang kini hanya berjarak beberapa inci dari ujung jari seorang Patih gila.