← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 1 of 18

PROLOG: Sisik yang Berdenyut

by The Arc

Dahulu, sebelum kasta memisahkan langit dan lumpur, dunia ini bertumpu di atas punggung Antaboga—sang naga raksasa yang bersemayam di kedalaman bumi yang paling kelam. Dalam gurat-gurat kidung Kawi kuno, ia dilukiskan sebagai makhluk tanpa awal dan tanpa akhir; pernapasannya mengatur hembusan magma di perut bumi, dan kibatan ekornya sanggup meruntuhkan gunung-gunung batu dalam satu denyutan.

Namun, ketika para leluhur Priyayi pertama berhasil mencuri rahasia ilmu kebatinan murni dari sang naga, mereka tidak mengagungkannya. Mereka mengkhianatinya.

Dengan menancapkan pasak-pasak baja sakti langsung ke jantung tanah, Keraton Atas didirikan tepat di puncak bukit yang megah diterangi sinar matahari abadi dan dibentengi dinding sutra. Sementara di bawahnya, celah tebing raksasa dibiarkan menganga, menampung sisa-sisa napas Antaboga yang beracun. Dari celah batu yang lembap dan tak tersentuh cahaya itulah Kota Akar lahir, menjadi rumah bagi para buangan, penempa logam ilegal, dan peracik susuk jalanan.

Bagi para Priyayi yang berada di atas, Antaboga hanyalah mitos usang pengantar tidur. Sebuah cerita dongeng untuk menakut-nakuti rakyat jelata agar tetap tunduk dan takut pada takdir. Mereka yakin kekuatan sang naga telah sepenuhnya terkunci di bawah pilar-pilar istana.

Mereka lupa bahwa naga bumi tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur.

Setiap beberapa ratus tahun sekali, ketika sang naga bersalin kulit di kedalaman tergelap, ia menyisakan selembar sisik hitam pekat sebuah lontar alami yang tidak bisa dihancurkan oleh api maupun besi. Lontar itu berdenyut, menyerap darah dan dendam dari tanah di atasnya, menunggu satu tangan yang cukup nekad untuk membukanya dan membakar tatanan kerajaan menjadi abu.