← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 2 of 18

BAB 1: Darah di Atas Paron

by The Arc

"Besi itu punya ingatan, Jaro. Kalau kau tidak memaksanya tunduk dengan darahmu sendiri, dia yang akan meminum darahmu di arena nanti."

Kala menekan ujung paku baja berukuran sebesar jarum jahit itu tepat ke tengkuk pria berbadan gempal di hadapannya. Pria bernama Jaro itu menggeram tertahan, otot-otot punggungnya yang dipenuhi tato murahan menegang keras hingga urat lehernya menonjol seperti akar pohon tua. Di dalam ruangan bawah tanah yang pengap dan hanya diterangi cahaya kuning redup dari tungku peleburan, keringat membanjiri tubuh mereka berdua.

Dengan satu ketukan presisi menggunakan palu kayu kecil, Kala membenamkan susuk baja itu sepenuhnya ke bawah kulit Jaro. Tidak ada darah yang menetes. Luka itu seketika menutup, menyisakan ruam kehitaman yang berdenyut pelan seolah menyatu dengan aliran nadi.

Jaro menghela napas panjang, memutar lehernya hingga terdengar bunyi tulang gemeretak. Ia meninju telapak tangannya sendiri, dan suara benturan yang dihasilkan terdengar berat seperti batu beradu dengan batu. Senyum buas mengembang di wajah preman pasar gelap itu. Ia melempar sekantung koin perunggu ke atas meja kayu Kala yang dipenuhi sisa serbuk belerang dan kerak besi.

"Susuk buatanmu selalu gila, Kala," geram Jaro puas. "Kalau malam ini aku menang telak di arena sabung manusia, aku akan kembali untuk menanam susuk di kedua kepalanku."

"Pastikan saja kepalamu tidak terpenggal sebelum kau sempat kembali ke sini," jawab Kala datar tanpa menatap mata pria itu. Tangannya yang dipenuhi bekas luka bakar asik meraup koin-koin perunggu tersebut, mengujinya satu per satu di antara ibu jari dan telunjuk untuk memastikan tidak ada koin timah palsu yang diselipkan.

Setelah Jaro melangkah keluar dan menghilang ditelan kabut malam Kota Akar, Kala segera mengunci pintu kayunya. Ia memutar tiga palang besi tebal—sebuah kebiasaan paranoid yang menemaninya sejak kematian Mpu Dirga sebulan lalu.

Kota Akar tidak pernah benar-benar tidur. Di atas sana, sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari roda kereta kuda milik para Priyayi Keraton yang melintas di jembatan batu. Mereka yang hidup di ibu kota atas bisa melihat matahari, menghirup udara bersih, dan mengenakan sutra. Sementara di bawah sini, di dalam celah tebing raksasa yang menampung ribuan nyawa buangan, udara selalu berbau pesing, kemenyan, dan kebohongan.

Kala berjalan ke sudut ruangannya, menjauh dari hawa panas tungku peleburan. Ia berjongkok di depan paron—landasan tempa besi miliknya yang seberat anak kerbau. Dengan napas tertahan, ia menekan sebuah simpul rahasia di lantai batu tepat di bawah paron tersebut. Sebuah kompartemen kecil terbuka, mengeluarkan bau kapur barus yang menyengat.

Dari dalam sana, Kala menarik keluar sebuah gulungan naskah lontar.

Jantungnya selalu berdetak lebih cepat setiap kali ia memegang benda ini. Sampul lontar itu tidak terbuat dari anyaman daun palem biasa, melainkan dari susunan sisik hitam pekat yang terasa hangat di kulit. Mitos yang beredar di jalanan mengatakan itu adalah sisik Antaboga, sang naga bumi. Kala tidak pernah percaya mitos, tapi ia tahu sihir murni saat menyentuhnya.

Ia membentangkan lontar tersebut di atas meja kerjanya. Tidak ada teks atau kalimat yang bisa dibaca; permukaannya tampak polos. Namun, Kala merogoh kantung kulit di pinggangnya, mengeluarkan sejumput serbuk perak, lalu menaburkannya perlahan ke atas permukaan sisik tersebut sambil menggumamkan rapalan kuno yang diajarkan Mpu Dirga.

Sreett.

Dalam sekejap, urat-urat keemasan menyala dari dalam lontar, membentuk rute peta yang sangat rumit. Itu bukan sekadar peta jalan raya, melainkan peta gorong-gorong rahasia, jalur pasokan air, dan lorong evakuasi yang terhubung langsung ke jantung Keraton Atas. Di sudut peta itu, tergambar sebuah sandi astronomi yang menunjuk pada satu tanggal spesifik: Malam Purnama Darah. Tiga hari dari sekarang.

Kala mengusap wajahnya yang kasar. Mpu Dirga dibantai hanya karena mencoba menyembunyikan peta ini. Kala tahu ia seharusnya membakar benda terkutuk ini dan melupakannya. Tapi ada sesuatu yang menahannya—rasa lapar akan kebenaran, atau mungkin sekadar dendam pada sistem kasta yang telah merenggut segalanya dari hidupnya.

Tiba-tiba, suara ketukan memecah keheningan ruangannya.

Tok. Tok. Tok. Tiga ketukan lambat.

Tok. Tok. Dua ketukan cepat.

Darah Kala seakan membeku. Keringat dingin seketika merembes dari pori-pori lehernya. Itu bukan Jaro. Itu bukan tetangganya. Itu adalah sandi ketukan yang diceritakan Mpu Dirga di malam terakhir sebelum pria tua itu ditemukan dengan dada berlubang dan organ tubuh yang meleleh.

Kala tidak membuang waktu. Dengan punggung tangannya, ia menyapu lontar itu kembali ke dalam kompartemen rahasia, menendang tuasnya hingga tertutup rapat, dan mematikan satu-satunya pelita minyak di ruangan itu. Gelap total seketika menyelimuti.

Ketukan itu terulang. Kali ini dinding batu ruangannya ikut bergetar.

Kala bergerak tanpa suara, mengambil posisi di samping pintu. Tangan kanannya mencabut sebuah paku rajah hitam—senjata pusaka berukuran sebesar telunjuk, ditempa dari inti meteorit yang dirancang khusus untuk memecah ilmu kebal. Tangan kirinya merogoh kantung berisi bubuk mesiu dan serbuk cabai kering yang biasa ia gunakan untuk membersihkan tungku.

Keheningan malam Kota Akar terasa mencekik.

Lalu, terdengar bunyi kayu berderit yang dipaksakan dari luar. Dalam hitungan detik, pintu setebal tiga inci itu meledak ke dalam, hancur berkeping-keping seolah ditabrak kereta baja.

Hempasan angin panas melemparkan Kala menghantam meja kayunya hingga hancur berantakan. Paru-parunya meraup debu dan asap belerang. Sambil menahan rasa sakit di tulang rusuknya, Kala mendongak, matanya membelalak menembus kepulan debu.

Di ambang pintu yang kini hancur, berdiri seorang pria jangkung. Kain lurik hitam membalut tubuhnya bagai bayangan yang hidup. Wajahnya tertutup Topeng Kelana kayu berwarna merah darah dengan senyuman iblis yang menyeringai menembus kegelapan.

Sang Telik Sandi. Anjing pembunuh dari Keraton Atas.

Pria itu melangkah masuk dengan tenang. Sepatunya menggilas sisa-sisa kayu pintu. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah keris luk sembilan. Senjata itu tidak memantulkan cahaya; ia justru menyerap kegelapan. Cairan hitam pekat menetes dari ujung bilahnya, mendesis tajam saat menyentuh lantai batu bengkel Kala, meninggalkan lubang berasap.

"Kudengar peracik susuk di tempat ini punya tangan yang terampil," suara dari balik topeng kayu itu terdengar serak, menggemakan aura kematian murni. Pria itu menoleh ke arah Kala yang terengah-engah di lantai. "Biar kulihat, apakah tanganmu cukup terampil untuk menjahit kembali ususmu sendiri yang terburai, Bocah."

Sang Telik Sandi tidak menunggu jawaban. Dalam satu kedipan mata, sosoknya lenyap, menyisakan kepulan asap hitam di tempatnya berdiri, dan muncul kembali tepat di depan wajah Kala, mengayunkan keris beracun itu langsung ke arah lehernya.