← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 3 of 18

BAB 2: Asap dan Belerang

by The Arc

Bilah Keris Bisa Peneluh itu menyambar udara hanya seujung kuku dari jakun Kala. Hawa panas dari racunnya sempat memotong beberapa helai rambut di lehernya hingga hangus dan mengeluarkan bau gosong yang menyengat.

Kala tidak mencoba menangkis sabetan itu dengan paku rajah di tangan kanannya menghantamkan pasak meteorit pada keris pusaka yang dilapisi ilmu kanuragan Keraton Atas sama saja dengan membiarkan lengannya putus. Sebaliknya, tangan kiri Kala bergerak dalam refleks bertahan hidup. Ia menghantamkan kantung kain berisi campuran bubuk mesiu, serbuk belerang, dan cabai kering tepat ke lubang mata di balik Topeng Kelana sang pembunuh.

Pada saat yang sama, Kala melemparkan paku rajah hitamnya bukan ke arah dada sang Telik Sandi, melainkan menghantam barel minyak pelita yang tergantung tepat di atas tungku peleburan.

CRASH!

Percikan api dari paku meteorit yang bergesekan dengan besi barel menyambar minyak yang tumpah, membakar belerang murni dan bubuk cabai dalam satu ledakan kilat.

BOOOM!

Gelombang api oranye dan kepulan asap hijau pekat memenuhi ruangan sempit itu. Asap berbau belerang panas bercampur racun cabai yang terbakar seketika menyengat mata dan paru-paru. Bahkan seorang pembunuh elit dengan ilmu kebal murni tidak bisa melawan reaksi biologis tubuhnya ketika asap cabai merah membakar selaput lendir matanya.

Sang Telik Sandi mengerang keras dari balik topeng merahnya. Langkah kakinya yang semula presisi dan tanpa suara kini terhuyung sejenak saat ia melangkah mundur, terbatuk-batuk sembari mengibaskan kain lurik hitamnya untuk menghalau asap pekat.

Kala tidak membuang satu detik pun untuk merayakan kehebatannya. Paru-parunya sendiri rasanya seperti disiram air raksa, dan rasa sakit dari tulang rusuknya yang retak membuat penglihatannya berkunang-kunang. Dengan merayap di atas lantai batu yang dipenuhi pecahan kayu dan bara api, ia menerjang ke arah paron.

Jemarinya yang gemetar dan berdarah menekan pasak besi di bawah landasan tempa. Kompartemen rahasia itu terbuka. Kala menyambar lontar bersampul sisik Antaboga, memasukkannya cepat-cepat ke dalam bumbung bambu kedap air di pinggangnya, lalu menguncinya rapat.

"Trik murah jalanan..." gertak suara berat dari balik kepulan asap.

Sebuah gelombang angin tak kasat mata berhembus kencang, menyapu bersih asap belerang dalam sekedip mata. Sang Telik Sandi berdiri di sana, topeng kayu merahnya kini ternoda jelaga hitam, dan dari balik lubang matanya memancar aura merah menyala ilmu Bolo Upas, aura racun pembunuh yang sanggup merusak organ dalam dari jarak jauh.

"Kau pikir serbuk cabai bisa menyelamatkanmu dari kematian, Bocah Akar?" desis pria itu. Ia merentangkan tangannya, dan bilah keris luk sembilan itu memanjang secara supranatural, membelah meja kayu dan rak-rak senjata Kala menjadi dua bagian hanya dengan satu ayunan.

Kala tahu ia tidak akan pernah bisa keluar lewat pintu depan yang kini dijaga oleh pria itu. Matanya melirik ke arah tiang penyangga utama bengkelnya sebatang kayu jati tua lapuk yang menahan beban atap batu tebing Kota Akar.

"Tidak," jawab Kala sambil merogoh sisa martil tempa seberat lima kilogram dari lantai. "Tapi ini bisa."

Dengan seluruh sisa tenaga di lengan kanannya, Kala menghantamkan martil besi itu tepat ke dasar tiang penyangga yang sudah rapuh.

KRAAAKKK!

Kayu tua itu hancur berkeping-keping. Langit-langit ruangan yang terbuat dari susunan batu kali dan tanah tebing yang lembap seketika runtuh. Ratusan kilogram batu dan reruntuhan menimpa ruangan sempit itu, menciptakan suara gemuruh dahsyat yang menggetarkan lorong-lorong bawah tanah Kota Akar.

Sebelum atap sepenuhnya ambrol, Kala melompat membalikkan tubuhnya menuju sudut ruangan tergelap—sebuah saluran pembuangan limbah tempa yang sempit dan berlumut, hanya cukup dimasuki oleh tubuh seorang pemuda kurus.

Kala meluncur jatuh kepala lebih dulu ke dalam saluran pembuangan yang gelap gulita, tepat saat tanah dan batu tebing runtuh total menimbun bengkel tempat ia mengais rezeki bertahun-tahun, menyegel Sang Telik Sandi di dalam debu dan reruntuhan.

SPLASH!

Tubuh Kala menghantam air selokan Kota Akar yang dingin, kental, dan berbau busuk. Ia mengapung beberapa meter di dalam gorong-gorong bawah tanah yang gelap, terbatuk-batuk memuntahkan air kotor bercampur darah dari bibirnya yang pecah.

Saat ia merangkai napasnya yang patah-patah dan meraba bumbung bambu di pinggangnya memastikan lontar sisik Antaboga masih aman, Kala mendongak ke arah lubang gorong-gorong di atasnya. Di balik kegelapan lorong pembuangan itu, ia tahu satu hal: bengkelnya sudah hancur, kehidupannya yang lama telah berakhir, dan perburuan atas nyawanya baru saja dimulai.