Senyuman tipis di wajah Patih Arya Danurdara memudar, digantikan oleh raut wajah datar yang teramat dingin. Bagi seorang penguasa tertinggi yang terbiasa ditundukkan oleh ribuan kepala, keberanian seorang pemuda berbau comberan dari Kota Akar adalah sebuah penghinaan yang tak bisa dimaafkan.
Sang Patih tidak mencabut senjata. Ia bahkan tidak repot-repot mengangkat suaranya. Ia hanya menjentikkan dua jarinya yang dihiasi cincin batu giok.
Enam prajurit berzirah baja hitam yang berbaris di belakangnya seketika melesat maju bak sekawanan serigala yang dilepas dari rantai. Sepatu bot besi mereka menghantam lantai kayu jati yang dipelitur, menciptakan gema derap kematian di tengah labirin rak-rak kitab kuno. Ujung tombak bermata ganda mereka berkilat di bawah cahaya bulan, terarah lurus ke dada Kala dan Gayatri.
"Kala, tutup matamu!" teriak Gayatri.
Gadis bangsawan itu menghentakkan kedua telapak tangannya ke lantai kayu. Gelang perak di pergelangannya bergetar hebat, memancarkan dengungan magis yang memekakkan telinga.
“Arah Mantra: Tirai Gemilang!”
Sebuah kubah cahaya keemasan yang teramat menyilaukan meledak dari titik tempat Gayatri bersimpuh. Cahayanya begitu murni dan terang hingga menembus celah-celah rak buku raksasa, menguapkan debu-debu tua yang melayang di udara, dan menyebarkan aroma harum bunga melati yang terbakar.
Keenam prajurit elit itu menjerit kesakitan. Retina mata mereka terbakar oleh kilatan cahaya murni tersebut. Langkah mereka goyah, ayunan tombak mereka menebas udara kosong.
Kala tidak membuang sedetik pun peluang dari kebutaan sesaat musuhnya. Ia melesat dari balik patung Dewi Saraswati, meluncur rendah di atas lantai kayu yang licin untuk menghindari sabetan tombak yang buta. Tangan kanannya mencengkeram paku rajah meteoritnya erat-erat. Ia tahu paku kecil itu tak akan bisa menembus pelat dada baja hitam buatan keraton.
Maka, Kala mengincar apa yang tidak terlindungi.
Ia mengayunkan paku rajahnya dan menghantamkannya tepat ke lipatan sendi lutut bagian belakang salah satu prajurit. Baja beradu dengan tulang rawan. Prajurit itu meraung parah saat lututnya hancur, tubuhnya yang berat ambruk ke lantai. Belum sempat prajurit itu meronta, Kala merebut gagang tombak dari tangannya yang melemah, memutar porosnya, dan menghantamkan ujung tumpul tombak itu ke pelipis helm prajurit kedua dengan tenaga penuh.
TENGG!
Bunyi nyaring logam beradu logam bergema. Prajurit kedua terhuyung mundur, gegar otak seketika.
Namun, sebelum Kala bisa memutar tombaknya untuk menyerang prajurit ketiga, suhu udara di dalam perpustakaan mendadak anjlok drastis. Napas Kala seketika menjelma menjadi uap putih. Hawa dingin yang menusuk tulang merayap dari ujung lorong, membekukan keringat di pelipisnya.
Di ujung lorong, Patih Danurdara melangkah maju. Sang Telik Sandi bertopeng merah bermaksud ikut campur, namun Patih mengangkat tangannya, menahan si pembunuh bayaran.
"Menyedihkan," desis Patih Danurdara. Suaranya bergema tumpang tindih, seolah ada dua entitas yang berbicara dari tenggorokannya. "Prajurit keraton dipermainkan oleh tikus selokan."
Sang Patih menginjakkan kakinya ke lantai. Gelombang kejut berwarna hitam pekat meledak dari telapak kakinya, merambat kilat melintasi lantai kayu jati, membekukan segala sesuatu yang dilewatinya dengan lapisan es beracun Bolo Upas.
Ketika gelombang es hitam itu menghantam kubah cahaya keemasan milik Gayatri, suara derak kaca pecah yang memekakkan telinga terdengar. Perisai sihir pelindung Gayatri hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya yang menguap ke udara.
Gayatri terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam keras fondasi patung Dewi Saraswati. Gadis itu memuntahkan darah segar, matanya membelalak ngeri merasakan tekanan kanuragan yang begitu gelap dan purba dari tubuh sang Patih.
"Kalian para Penenun Mantra selalu merasa diri kalian suci," ujar Patih Danurdara, melangkah santai melintasi lantai yang kini membeku dan hancur di setiap pijakannya. "Kalian mengutuk kami karena mencuri Tuah Antaboga, menuduh kami sebagai iblis yang serakah. Tapi tahukah kau, Putri Gayatri, kebenaran apa yang selama ini disembunyikan oleh Keraton Atas?"
Patih Danurdara mengangkat lengan kirinya yang terbalut kain sutra emas murni. Perlahan, ia menarik lengan bajunya hingga sebatas siku.
Kala dan Gayatri terkesiap. Hawa mual seketika mengocok perut Kala.
Lengan sang Patih tidak terlihat seperti lengan manusia. Dagingnya berwarna hitam arang, membusuk, dan mengeluarkan cairan kental berbau belerang. Di sela-sela daging yang membusuk itu, tumbuh sisik-sisik tajam berwarna merah tembaga yang menusuk kulitnya dari dalam. Lengan itu tampak seperti mayat yang dikubur di dalam magma panas—hidup, namun terus-menerus membusuk.
"Ilmu kebal dan umur panjang dari darah naga bumi... itu bukan berkah. Itu kutukan," desis sang Patih, matanya memancarkan keputusasaan dan kegilaan yang mengerikan. "Darah manusia tidak dirancang untuk menampung energi murni Antaboga. Selama tiga ratus tahun, kasta Priyayi membusuk dari dalam. Kami harus meminum lebih banyak darah naga setiap bulannya, menyedot habis sari buminya, hanya untuk menunda pembusukan organ-organ kami sendiri!"
Patih Danurdara mencengkeram udara dari kejauhan. Sebuah tangan tak kasat mata dari gravitasi murni seketika mencekik leher Kala, mengangkat tubuh pemuda itu setengah meter dari lantai. Kala meronta, memegang lehernya sendiri yang tercekik sihir mematikan itu, mencoba meraup udara namun kerongkongannya terkunci rapat.
"Itulah kebenarannya, Bocah Tempa!" teriak sang Patih, suaranya menggema liar menghancurkan kaca-kaca jendela perpustakaan. "Keraton Atas sedang sekarat! Kami semua membusuk hidup-hidup! Dan satu-satunya cara untuk menghentikan kutukan ini adalah menyerap inti jantung naga secara utuh di Malam Purnama Darah. Tapi jantung itu disegel oleh leluhur Penenun Mantra... dan hanya darah dari tiga belas keturunan terakhirnya yang bisa membukanya."
Mata sang Patih beralih ke arah Gayatri yang masih terkapar lemah.
"Serahkan tabung kunci itu, Putri. Dan aku berjanji kematianmu di atas altar Watu Gilang esok malam akan menjadi pengorbanan yang agung untuk melahirkan ras Dewa yang baru."
Wajah Kala mulai membiru. Ia kehabisan oksigen. Pandangannya mulai berbalut titik-titik hitam. Tabung tembaga di tangan kirinya nyaris terlepas. Jika ia melepaskannya, semuanya berakhir.
Besi itu punya ingatan, suara Mpu Dirga tiba-tiba bergema di kepalanya. Gunakan apa yang ada di sekitarmu, Kala. Orang sombong selalu buta pada hal-hal kecil.
Dengan sisa kesadaran dan energi di ujung jarinya, Kala tidak mencoba menyerang Patih Danurdara. Ia mengarahkan pandangannya pada puluhan gulungan lontar kering dan rak kayu jati purba yang berjejer rapat di sekeliling mereka. Tempat ini adalah surga bagi api.
Kala menggunakan tangan kanannya yang masih menggenggam paku rajah meteorit. Ia merogoh paksa kantung kulit di pinggangnya, merobeknya hingga hancur. Bubuk mesiu hitam, campuran belerang sisa bengkel, dan serbuk besi berhamburan jatuh ke udara tepat di bawah kakinya.
Mata Kala menatap tajam ke arah mata sang Patih, lalu menyeringai sinis memamerkan giginya yang berlumur darah.
Dengan satu ayunan lemah namun presisi, Kala menghantamkan paku rajah meteoritnya ke mata tombak baja milik prajurit yang tergeletak di dekat kakinya.
TRANG! SRETT!
Percikan bunga api yang sangat terang memercik dari gesekan meteorit dan baja. Bunga api itu menyambar awan bubuk mesiu yang melayang di udara.
Waktu seakan berhenti berdetak sesaat. Mata Patih Danurdara membelalak lebar, menyadari kegilaan yang baru saja dilakukan pemuda jalanan itu.
BOOOOOOOOOOOMMM!
Ledakan dahsyat merobek keheningan Keraton Atas. Gelombang api berwarna oranye bercampur hijau belerang menyapu lantai perpustakaan seperti ombak neraka. Ratusan rak kayu jati yang telah mengering selama berabad-abad langsung tersulut, menciptakan badai api yang melahap jutaan gulungan kitab kuno, tirai-tirai sutra, dan lukisan sejarah.
Sihir pencekik di leher Kala seketika hancur akibat guncangan ledakan. Tubuh Kala terlempar ke lantai kayu yang kini membara.
Dalam kekacauan badai api dan asap tebal yang membutakan, Patih Danurdara dan para prajuritnya terpaksa mundur menutupi wajah mereka dari suhu panas yang sanggup melelehkan daging.
"Kala! Bangun!"
Sebuah tangan halus menyambar kerah baju Kala, menariknya paksa dari lantai. Gayatri berdiri di sana, wajahnya bernoda jelaga, matanya menyala oleh adrenalin. Di sekeliling mereka, Perpustakaan Agung yang menjadi simbol kebanggaan Keraton Atas perlahan runtuh ditelan kobaran api.
"Ke mana?!" teriak Kala, menahan suara gemuruh api yang menderu layaknya naga buas. Tabung tembaga masih tergenggam erat di tangan kirinya.
"Keluar dari sangkar emas ini!" balas Gayatri.
Gadis itu tidak berlari menuju pintu gerbang utama. Ia menarik Kala berlari menembus kobaran api, lurus menuju jendela kaca patri raksasa berukuran sepuluh meter yang menampilkan gambar sejarah pendirian kerajaan.
"Kau gila?! Kita ada di tebing tertinggi!" teriak Kala, menyadari mereka berlari menuju jurang terbuka.
"Lebih baik jatuh bersama angin daripada membusuk bersama para Priyayi!" teriak Gayatri.
Tanpa memperlambat langkahnya, Gayatri menyalurkan sisa sihir perlindungannya ke pundak Kala. Mereka melompat serentak, menghantamkan tubuh mereka ke tengah-tengah jendela kaca patri raksasa itu.
PRANGGG!
Pecahan kaca warna-warni berhamburan di udara, berkilauan memantulkan cahaya api dari dalam perpustakaan. Kala dan Gayatri terlempar keluar dari bangunan itu, membelah angin malam yang dingin, dan terjun bebas meninggalkan keraton yang terbakar di atas sana, menembus kabut malam menuju jurang tanpa dasar Kota Akar yang gelap gulita.