← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 10 of 18

BAB 9: Bayangan di Balik Tirai Sutra

by The Arc

Langit jingga di atas Keraton Atas perlahan meluruh menjadi ungu pekat, menyelimuti puncak-puncak atap tumpang tiga yang dilapisi genting tembaga berkilau. Cahaya matahari terakhir menyiram pelataran Kompleks Kepatihan dengan pendar keemasan yang hangat, namun dingin di kulit Kala.

Di balik tiang granit raksasa berukir sulur teratai, Kala merapatkan tubuhnya. Napasnya ditahan sehalus mungkin. Jarinya yang penuh bekas luka bakar menempel pada permukaan batu pualam yang sangat halus—kontras yang menyakitkan dengan kulit telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan dari pekerjaan menempa besi. Setiap kali sekelompok abdi dalem berbalut kain jarik sutra melintas dengan langkah yang anggun tanpa suara, Kala merasa seperti kotoran yang siap disapu dari lantai suci ini.

"Fokus, Kala," bisik Gayatri sangat pelan dari sampingnya.

Jemari Gayatri bergerak membentuk simpul kuno di udara. Sepucuk sinar keemasan yang amat tipis terpancar dari gelang peraknya, menyelimuti tubuh mereka berdua dalam pendar Arah Mantra Pengabun—sihir tingkat rendah yang membiasakan cahaya dan mengaburkan bau tubuh mereka dari pancaindra manusia biasa.

"Penjaga perpustakaan tidak mengandalkan mata," sambung Gayatri, matanya menatap tajam ke arah gerbang kayu jati raksasa setinggi lima meter di hadapan mereka. "Mereka menanamkan Jala Rajah di sepanjang lantai. Langkah kaki berisik atau aura kebatinan yang liar akan memicu lonceng perunggu di atas atap."

Kala melirik ke arah gerbang. Dua orang pengawal berzirah tembaga berdiri tegak bagai patung di kanan-kiri pintu. Di dada mereka, tergantung kalung perunggu berbentuk lingkaran simetris yang bergetar pelan—alat pendeteksi getaran jiwa.

"Kau punya rencana, atau kita mau menunggu sampai malam benar-benar gelap?" gertak Kala berbisik.

Gayatri tidak menjawab. Gadis itu merogoh sebuah kantung sutra kecil dari balik pinggangnya, mengeluarkan tiga buah biji tanaman kemukus yang telah diolesi minyak dupa. Dengan satu jentikan lembut, biji-biji itu melesat melintasi pelataran, mendarat tanpa bunyi di atas atap bangunan penyimpanan kereta kencana yang terletak lima puluh meter di sebelah kiri mereka.

TAK.

Tiga detik kemudian, biji kemukus itu meledak kecil, memuntahkan aroma minyak bumi yang menyengat dan gumpalan asap hitam yang meniru bau kebocoran pelita uap.

Dua pengawal di gerbang seketika menoleh. Kalung perunggu di dada mereka berdering halus.

"Limbah pelita uap di gudang kereta bocah lagi?" gumam salah satu pengawal dengan suara berat. "Periksa ke sana sebelum baunya tercium oleh Patih."

Begitu kedua pengawal itu melangkah pergi meninggalkan pos mereka, Gayatri menyenggol siku Kala. "Sekarang!"

Mereka bergerak bagai dua bayangan melintasi pelataran batu putih yang terbuka. Gayatri melompat ringan, tubuhnya seolah tak berbobot saat menjejakkan kaki di ambang jendela kayu berukir yang terbuka sedikit. Kala mengekor dari belakang, meraih kening jendela dengan satu tangan, lalu menarik tubuhnya naik dengan sisa tenaga di lengannya yang pegal.

Sreeet.

Mereka menyusup masuk ke dalam Perpustakaan Agung Keraton Atas.

Suasana di dalam bangunan raksasa itu mendadak mengubah seluruh pancaindra Kala. Udara di luar yang segar dan berbau bunga melati seketika berganti menjadi aroma pekat kertas daun lontar tua, tinta jelaga, resin kayu damar, dan bau kapur barus yang menyengat hidung.

Ruangan itu terbentang sangat luas tanpa sekat tembok, melainkan dipisahkan oleh ratusan lemari kayu jati berukir setinggi sepuluh meter yang berjejer rapi bagai labirin raksasa. Jutaan gulungan kitab kulit kayu, naskah lontar, dan Babad kuno tertata rapi di dalamnya. Di antara lorong-lorong lemari, bergantung tirai-tirai sutra tipis berwarna hijau lumut yang meliuk pelan tersapu angin malam dari jendela atas, menciptakan ilusi bayangan yang menipu mata.

Lantai ruangan terbuat dari susunan kayu jati yang dipelitur mengilat hingga Kala bisa melihat pantulan wajahnya yang bernoda darah kering di atas permukaannya.

"Mpu Dirga dulu bertugas di ruang arsip terlarang," bisik Gayatri, melangkah sangat hati-hati di atas lantai kayu tanpa menimbulkan derit sedikit pun. "Di mana tempat penyimpanan Babad terlarang?"

Kala memejamkan matanya sejenak. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa ia masih menjadi murid di bengkel tua Kota Akar. Mpu Dirga sering menggambarkan Perpustakaan Agung ini dalam bentuk sketsa kasar di atas tanah saat mengajarkan Kala cara membaca peta lorong.

"Di bawah naungan patung Dewi Saraswati," ujar Kala, membuka matanya kembali. "Mpu Dirga bilang, peninggalan tua selalu disembunyikan di bawah kaki para dewa."

Mereka menyusuri labirin lemari raksasa, berjalan di balik lambaian tirai sutra hijau. Cahaya bulan purnama yang mulai merayap naik menyusup lewat celah atap kaca, membiaskan garis-garis cahaya perak di atas lantai.

Di ujung lorong utama, mereka menemukan patung Dewi Saraswati yang dipahat dari batu pualam hitam murni seukuran dua kali manusia dewasa. Patung itu duduk anggun menggendong alat musik vina, menatap dingin ke arah lorong kosong di hadapannya.

Kala berjongkok di balik landasan batu patung tersebut. Jemarinya yang kasar menyapu ukiran sulur teratai di dasar alas patung, mencari lekukan yang pernah diceritakan gurunya.

KLIK.

Sebuah pasak kayu kecil terbenam saat ditekan oleh ibu jari Kala. Di samping alas patung, sebuah papan kayu jati bergeser pelan tanpa suara, memperlihatkan sebuah rongga rahasia tempat penyimpanan dokumen berharga.

Di dalam rongga itu, tergeletak sebuah tabung tembaga berukir benang emas yang telah kusam dimakan usia.

"Ini dia..." desis Kala, menyambar tabung tembaga itu.

Namun, sebelum jemarinya sempat membuka tutup tabung, aroma bunga kantil yang segar mendadak berubah menjadi bau manis yang membusuk—bau khas minyak Cendana Bang, minyak suci yang hanya digunakan oleh para pejabat kasta tertinggi Keraton.

Suara langkah kaki berirama lambat bergema dari balik tirai sutra di ujung lorong.

"Mpu Dirga memang seorang sejarawan yang cermat," sebuah suara dingin, halus, namun memancarkan daya tekan kanuragan yang begitu berat terdengar membelah keheningan perpustakaan. "Dia tahu bagaimana cara menyembunyikan kunci... tapi dia lupa bahwa rumah ini milik kami."

Tirai-tirai sutra hijau di sekeliling mereka mendadak terkoyak menjadi helai-helai benang halus, tertebas oleh gelombang angin tak kasat mata.

Di balik tirai yang hancur, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian kebesaran Priyayi Keraton. Kain jarik sutra emas melapisi tubuhnya yang tegap, dan di dadanya tersemat pin emas murni berbentuk stempel Patih Keraton. Wajahnya yang bersih tanpa cela memancarkan senyuman tipis yang teramat dingin.

Di belakang pria itu, berdiri Sang Telik Sandi bertopeng kayu merah darah, mengapit bersama enam orang prajurit elit berzirah baja hitam yang memegang tombak bermata ganda.

Patih Arya Danurdara. Dalang utama di balik ritual Purnama Darah.

Gayatri seketika melangkah ke depan Kala, merentangkan kedua tangannya. Pendar cahaya keemasan meledak dari seluruh ruas jarinya saat ia memanggil seluruh sisa Arah Mantra dari dalam darah mulianya.

"Patih Danurdara..." desis Gayatri dengan suara bergetar menahan dendam yang membara. "Kau yang membantai keluargaku!"

Patih Danurdara terkekeh pelan, tawa yang tidak memiliki sedikit pun rasa bersalah. Ia melangkah maju satu tindak, dan lantai kayu jati di bawah sepatunya seketika mengkristal menjadi lapisan es kehitaman akibat aura Bolo Upas tingkat tinggi.

"Keluargamu terlalu naif, Putri Gayatri," ujar Patih Danurdara datar. "Mereka pikir ilmu kebatinan murni diciptakan untuk menjaga kedamaian. Padahal, kekuatan sejati hanya ada saat kita berani meminum darah sang naga di bawah tanah."

Patih itu menoleh ke arah Kala yang masih memegang tabung tembaga di tangannya.

"Dan kau, Bocah Tempa dari sampah Kota Akar," lanjut sang Patih, matanya menatap Kala bagai menatap seekor serangga. "Terima kasih telah membawakan tabung itu langsung ke hadapanku. Serahkan benda itu, dan aku akan memastikan lehermu dipenggal tanpa rasa sakit."

Kala perlahan berdiri tegak di samping Gayatri. Tatapan matanya yang sinis kembali menyala, tidak ada sedikit pun ketakutan di wajahnya yang bernoda abu. Tangan kanannya merogoh kantung paku rajah terakhir, sementara tangan kirinya mengepal erat pada tabung tembaga peninggalan Mpu Dirga.

"Aku sudah terbiasa hidup di antara asap dan darah, Priyayi," jawab Kala, suaranya menggema tajam di antara lemari-lemari kitab tua. "Dan kalau aku harus mati malam ini, aku pastikan baju sutra emasmu itu ikut ternoda darah dari selokan Kota Akar!"