Angin malam menderu di telinga Kala bagai lolongan ribuan serigala kelaparan. Di atasnya, siluet Perpustakaan Agung Keraton yang terbakar tampak seperti mahkota api yang menganga di ujung tebing raksasa. Kaca patri warna-warni yang hancur ikut terjun bersama mereka, berkilauan memantulkan cahaya jingga layaknya rintik hujan bintang yang berjatuhan menuju kegelapan abadi Kota Akar.
Kala merasakan perutnya seakan tertinggal di atas sana. Sensasi jatuh bebas dari ketinggian ratusan meter memompa adrenalin ke seluruh nadinya, menumpulkan rasa sakit di dada dan lehernya. Ia mendekap tabung tembaga di dada kirinya, sementara tangan kanannya merangkul erat pinggang Gayatri.
Gadis bangsawan itu memejamkan mata, rambut hitam panjangnya berkibar liar menampar wajah Kala. Dalam posisi terjun bebas, Gayatri menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Ujung-ujung jarinya yang berdarah kembali memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini tampak redup dan bergetar hebat.
“Arah Mantra: Sayap Bayu!” jerit Gayatri, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh angin.
Gelombang udara padat meledak dari bawah telapak kakinya, menciptakan pijakan angin tak kasat mata yang menghantam tubuh mereka. Guncangan keras itu terasa seperti ditabrak kereta kuda yang melaju kencang, nyaris membuat tulang punggung Kala patah. Laju jatuh mereka melambat secara drastis, namun sihir Gayatri tidak cukup kuat untuk menahan beban dua manusia sepenuhnya.
Mereka menembus pekatnya kabut Kota Akar, menghantam tiga lapis kain terpal raksasa yang membentang di atas Pasar Gelap, merobeknya menjadi serpihan kain, lalu menghantam atap jerami sebuah gubuk kosong sebelum akhirnya terjerembap bergulingan di atas tumpukan karung berisi abu sisa pembakaran arang.
BRUKK!
Debu hitam tebal mengepul ke udara. Kala terbatuk keras, memuntahkan gumpalan darah dan debu arang dari tenggorokannya. Seluruh persendiannya menjerit, namun saat ia menggerakkan jemarinya, ia tahu tidak ada tulang mayor yang patah. Ia masih hidup.
Di sebelahnya, Gayatri terbaring lemas. Sihir penahannya tadi telah menguras habis sisa tenaganya. Wajah gadis yang biasanya pucat anggun itu kini berlumur abu dan jelaga, napasnya tersengal pelan.
"Putri..." panggil Kala serak, merangkak mendekat dan menepuk pipi Gayatri. "Bangun. Telik Sandi itu pasti akan turun mencari mayat kita. Kita tidak bisa diam di sini."
Gayatri membuka matanya perlahan, matanya yang keemasan meredup menahan sakit. Ia mengangguk lemah, membiarkan Kala menarik tubuhnya berdiri.
Dengan langkah tertatih menyusuri lorong-lorong sempit yang bau pesing dan anyir darah tikus, Kala memapah Gayatri menjauhi keramaian Pasar Gelap. Ia tahu bengkelnya sudah hancur, dan tempat persembunyian Gayatri sudah ditemukan. Hanya ada satu tempat di Kota Akar yang tidak akan pernah disentuh oleh prajurit Keraton maupun para preman jalanan Lorong Kusta.
Sebuah area terlarang di ujung barat tebing bawah tanah, tempat di mana limbah belerang beracun dari pipa pembuangan Keraton Atas tumpah ke sungai bawah tanah. Udaranya beracun, dan hawa panas dari uap belerang membuat kulit melepuh jika terlalu lama berada di sana. Namun bagi seorang peracik susuk yang terbiasa menghirup mesiu dan asap tempa, tempat itu adalah satu-satunya surga yang tersisa.
Mereka merayap masuk ke dalam sebuah bekas tungku peleburan baja raksasa peninggalan era lampau yang telah lama ditinggalkan. Tempat itu berbentuk seperti gua besi bundar, dipenuhi sisa-sisa kerak logam berkarat, bau asam sulfat yang menyengat mata, dan genangan air berwarna kuning kehijauan yang mendidih pelan.
Kala membaringkan Gayatri di atas tumpukan karung goni kering di sudut ruangan yang jauh dari uap panas. Ia kemudian duduk bersila di depan sebuah landasan besi berkarat, meletakkan bumbung bambu dan tabung tembaga peninggalan Mpu Dirga tepat di bawah pendar pelita minyak usang yang ia temukan di sana.
"Buka tabung itu," bisik Gayatri dari sudut ruangan, suaranya parau. "Besok malam adalah Purnama Darah. Kita harus tahu apa yang disembunyikan gurumu."
Kala memutar tutup tabung tembaga tersebut. Terdengar bunyi krek halus dari segel logam yang terbuka. Kala memiringkan tabung itu ke telapak tangannya.
Sebuah benda panjang dan ramping meluncur jatuh. Bukan gulungan kertas, bukan pula perhiasan. Benda itu adalah sebuah jarum raksasa seukuran telunjuk pria dewasa yang diukir dari tulang berwarna putih pucat. Di sekujur tulang itu, terukir Aksara Kawi mikroskopis yang berdenyut memancarkan warna merah darah.
"Jarum Tulang..." gumam Gayatri, memaksa tubuhnya duduk untuk melihat lebih jelas. "Itu bukan tulang hewan, Kala. Itu tulang rusuk seorang Penenun Mantra. Mpu Dirga menggunakan tulang leluhurku untuk membuat kunci fisik yang bisa menembus Sandi Jiwa di dalam naskah lontar."
Kala menatap jarum tulang berukir itu, lalu menatap bumbung bambu yang berisi naskah sisik Antaboga. Pikirannya berputar tajam seperti gir roda gigi.
"Patih Danurdara membusuk hidup-hidup dari dalam karena menyerap kekuatan naga," kata Kala pelan, memutar jarum tulang itu di sela-sela jarinya yang kasar. "Ilmu kebalnya, sihir pembeku Bolo Upas-nya... semuanya bersumber dari energi murni yang korup. Kalau kita cuma membawa jarum ini ke Candi Sengkala besok malam, Telik Sandi bertopeng merah dan sang Patih akan membunuh kita sebelum kita bisa melangkah satu jengkal ke altar."
Kala meletakkan jarum itu di atas landasan besi. Ia lalu mencabut paku rajah meteoritnya yang sudah tumpul, dan mengeluarkan sisa-sisa bubuk mesiu, kepingan tembaga, sejumput getah jarak beracun dari kantungnya, dan kain perca berdarah milik Mpu Dirga.
"Darah Penenun Mantra dan ilmu kanuragan priyayi tidak akan bisa mengalahkan monster seperti mereka," Kala menatap lurus ke arah Gayatri, matanya menyala oleh determinasi yang liar dan gelap. "Di jalanan Kota Akar, jika lawanmu adalah iblis yang kebal senjata, kau tidak menusuknya dari luar. Kau menghancurkannya dari dalam."
Kala bangkit berdiri. Ia mulai mengumpulkan belerang mentah dari tepian kolam beracun di dalam gua itu, membawanya ke atas meja landasan bersama arang dan sisa kapur barus.
"Apa yang mau kau buat?" tanya Gayatri, melihat Kala mulai meracik bahan-bahan kimia yang mudah meledak itu dengan cekatan.
"Susuk," jawab Kala dingin. Ia menuangkan air raksa ke dalam sebuah mangkuk tanah liat tua, lalu mencampurnya dengan getah jarak dan bubuk mesiu, mengaduknya hingga membentuk pasta hitam pekat yang berbau sangat mematikan. "Selama ini aku membuat susuk dari besi untuk menahan rasa sakit dan memperkuat tulang. Tapi malam ini... aku akan membuat Susuk Guntur."
Kala beralih pada paku rajah meteoritnya. Ia mengambil kikir besi yang sudah berkarat, menjepit paku meteorit itu, dan mulai mengikir bagian ujungnya hingga tajam. Suara derit nyaring logam beradu logam menggema di dalam tungku raksasa, mengiris keheningan malam yang panjang. Keringat bercampur jelaga mengalir deras dari pelipis Kala, menetes ke atas logam panas yang sedang ia tempa ulang.
Setelah paku meteorit itu runcing bagai jarum penusuk jantung, Kala membakar ujungnya dengan api biru dari belerang murni. Ia menoleh ke arah Gayatri.
"Paku meteorit ini diciptakan untuk menembus ilmu kebal biasa," ujar Kala sembari memegang paku hitam yang kini memancarkan hawa panas mengerikan. "Tapi Telik Sandi dan Patih Danurdara dilapisi oleh kanuragan yang ditenagai oleh darah Antaboga. Paku ini butuh modifikasi."
Kala melangkah mendekati Gayatri, menyodorkan sebuah mangkuk kosong.
"Kau bilang hanya darah Penenun Mantra yang bisa mengunci kembali taring Antaboga," desis Kala. "Berikan darahmu padaku, Putri. Aku akan melapisinya ke paku rajah ini, dan kita lihat apakah anjing-anjing keraton itu masih kebal jika senjata yang menembus kulit mereka adalah kutukan bagi naga bumi itu sendiri."
Gayatri menatap pemuda kotor di hadapannya. Tidak ada rasa takut di mata Kala, hanya ada kehendak murni untuk bertahan hidup dan membalas dendam atas penderitaan rakyat Kota Akar. Gayatri menyunggingkan senyum tipis senyum tulus pertama yang ia perlihatkan sejak kejatuhan keluarganya.
Gadis itu mengambil belatinya, menggores telapak tangannya sendiri tanpa ragu, dan membiarkan darah keemasannya menetes deras ke dalam mangkuk tanah liat.
Malam itu, di dalam perut tungku peleburan yang beracun, seorang peracik susuk jalanan dan putri bangsawan pemberontak tak lagi lari dari takdir. Di bawah pendar cahaya belerang, Kala memanaskan, mencampur, dan menempa senjata terakhir mereka.
Tiga belas jarum baja pendek telah ia isi dengan pasta peledak mesiu beracun—Susuk Guntur yang dirancang untuk meledak saat bersentuhan dengan tekanan hawa murni kanuragan musuh. Dan satu buah paku rajah meteorit raksasa yang kini berwarna merah kehitaman, dilapisi secara permanen oleh darah suci Penenun Mantra.
Kala menyimpan senjata mematikan itu ke balik sabuknya. Ia menatap ke arah lubang cerobong asap tungku yang mengarah jauh ke atas sana, ke arah langit malam di mana bulan bulat penuh mulai memancarkan rona kemerahan yang mengerikan.
"Purnama Darah sudah tiba," gumam Kala. Ia mengepalkan tangannya yang penuh bekas luka bakar. "Mari kita kunjungi Candi Sengkala, dan kita kubur sang Patih hidup-hidup di dalam altarnya sendiri."