← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 13 of 18

BAB 12: Menyusup ke Jantung Keraton

by The Arc

Rembulan di langit malam itu tidak bersinar perak, melainkan merah pekat layaknya luka sayat yang menganga di kanvas semesta. Cahayanya yang bengis menembus kabut beracun Kota Akar, memberikan rona warna karat pada setiap atap gubuk dan jalanan batu yang basah. Malam Purnama Darah telah tiba.

Bagi rakyat jelata di bawah sana, ini hanyalah malam bulan purnama biasa yang diiringi mitos-mitos kuno. Namun bagi Kala dan Gayatri yang kini merayap di dalam Gorong-gorong Sengkolo jalur ventilasi uap raksasa yang menembus langsung ke lambung Keraton Atas malam ini adalah perlombaan melawan kiamat.

Udara di dalam gorong-gorong vertikal itu terasa seperti panggangan neraka. Suhu panas yang mendidih merambat dari pipa-pipa baja raksasa di sekeliling mereka, memanggang kulit Kala yang hanya berbalut kain lusuh. Keringatnya bercampur dengan debu belerang, menciptakan lapisan lumpur tipis yang perih saat bersentuhan dengan luka memar di dadanya. Namun, jemarinya yang kasar terus mencengkeram celah-celah batu bata berlumut, menarik tubuhnya naik meter demi meter.

Di punggungnya, bumbung bambu berisi lontar sisik Antaboga bergetar halus. Denyutannya semakin kencang, seolah merespons panggilan dari inti bumi yang perlahan terbangun.

"Tahan napasmu, Putri," bisik Kala, suaranya parau karena kerongkongannya yang mengering. Ia mengulurkan tangan kanannya yang kapalan, menarik Gayatri naik melewati sebuah katrol berkarat.

Gadis bangsawan itu terengah-engah. Gaun sutra hitamnya kini robek di banyak bagian, ternoda lumpur limbah dan darah yang mengering. Sihirnya nyaris habis, namun matanya yang keemasan menyala oleh determinasi yang membakar. "Aku... aku masih bisa bertahan," desisnya, mencengkeram tangan Kala kuat-kuat.

Setelah satu jam memanjat dalam siksaan hawa panas dan uap belerang yang membutakan, mereka akhirnya tiba di ujung gorong-gorong. Sebuah kisi-kisi besi tebal berkarat menutupi jalan keluar mereka. Kala mengintip dari celah kisi-kisi tersebut.

Di atas mereka, tidak ada lagi langit terbuka atau taman-taman gantung yang wangi. Mereka telah menyusup ke Lambung Keraton jaringan penjara bawah tanah dan lorong-lorong rahasia tempat para Priyayi menyembunyikan dosa-dosa mereka.

Lorong di atas kisi-kisi itu terbuat dari batu obsidian hitam yang memantulkan cahaya redup dari obor-obor bernyala hijau zamrud. Aroma wangi bunga kantil dan minyak Cendana Bang tercium sangat pekat, sengaja dibakar dalam jumlah besar untuk menyamarkan bau anyir darah yang menguar dari kedalaman dinding-dinding batu.

Sayup-sayup, dari arah utara lorong, terdengar gema suara tabuhan gamelan yang sangat lambat dan bernada rendah. Suaranya mengalun mistis, membuai namun mengancam, diiringi rapalan mantra dari ratusan tenggorokan abdi dalem yang bergaung tumpang tindih.

"Ritualnya sudah dimulai," bisik Gayatri, wajahnya memucat. "Patih Danurdara sedang menyiapkan Watu Gilang."

Kala merogoh sabuknya, mengeluarkan botol porselen kecil berisi cairan asam konsentrat hasil racikannya di Lorong Kusta. Ia meneteskan cairan berbau sengat itu ke engsel kisi-kisi besi berkarat. Terdengar bunyi mendesis tajam saat cairan asam itu melelehkan besi dalam hitungan detik. Dengan satu dorongan pelan dari pundaknya, kisi-kisi seberat puluhan kilogram itu terangkat tanpa bunyi derit sedikit pun.

Kala melompat keluar dari gorong-gorong, mendarat ringan bagai kucing liar di atas lantai obsidian, disusul oleh Gayatri.

Baru sepuluh langkah mereka mengendap-endap menyusuri bayangan pilar lorong, suara derap sepatu bot besi bergema memantul dari ujung tikungan. Dua orang prajurit elit berzirah baja hitam kelam pasukan khusus penjaga altar tengah berpatroli. Tombak bermata ganda di tangan mereka berkilat merah di bawah cahaya obor, dan dari celah helm visor mereka, memancar aura Bolo Upas yang membuat suhu lorong mendadak dingin membekukan.

Kala menahan lengan Gayatri, menekannya rapat ke dinding bayangan.

"Biar aku yang bereskan," bisik Kala dingin.

"Zirah mereka dilapisi energi Antaboga," Gayatri memperingatkan dengan suara nyaris tanpa embusan napas. "Senjata tajam biasa akan patah sebelum menyentuh kulit mereka."

"Aku tidak berencana menusuk mereka," seringai Kala sinis, matanya berkilat buas.

Kala mencabut dua batang Susuk Guntur dari balik sabuknya. Jarum baja pendek yang rongganya telah ia isi penuh dengan pasta peledak mesiu beracun. Ia tidak menggenggamnya seperti pisau, melainkan menjepitnya di antara buku-buku jarinya layaknya cakar baja.

Kala mengambil sebuah batu kerikil dari lantai, lalu melemparkannya ke arah pilar obsidian di seberang lorong.

TUK.

Suara pantulan batu itu menggema nyaring. Kedua prajurit elit itu seketika berhenti. Mereka memutar tubuh mereka serentak, mengangkat tombak dan berjalan perlahan menuju sumber suara. Formasi mereka rapat, tidak menyisakan titik buta di belakang mereka. Mereka dilatih untuk tidak pernah lengah.

Namun mereka tidak dilatih untuk menghadapi peracik susuk jalanan yang merayap di langit-langit.

Kala telah melompat naik, merenggangkan kaki dan tangannya untuk mencengkeram sudut gelap antara dinding dan langit-langit lorong. Tepat ketika kedua prajurit itu melintas di bawahnya, Kala menjatuhkan dirinya.

BRUK!

Kala mendarat tepat di punggung prajurit pertama. Sebelum prajurit itu bisa berteriak, Kala menghantamkan kepalan tangannya yang menjepit Susuk Guntur langsung ke celah persendian zirah di bagian tengkuk prajurit tersebut.

Bukan sebuah tusukan dalam, melainkan hantaman mematikan.

Saat tekanan luar biasa dari kepalan Kala menghantam zirah, pasta mesiu di dalam jarum baja itu bereaksi dengan aura panas kanuragan musuhnya.

BZZZ-DUAARR!

Ledakan teredam meledak langsung ke dalam zirah prajurit tersebut. Daya kejut kinetiknya yang luar biasa menghancurkan ruas tulang leher dan merobek jaringan saraf sang prajurit seketika, tanpa harus menembus pelat baja. Darah hitam menyembur dari celah helmnya, dan tubuh raksasa itu ambruk ke lantai seperti boneka putus tali.

Prajurit kedua terkesiap. Ia memutar tombaknya dalam gerakan mematikan, menyapu ruang di depannya dengan gelombang angin es Bolo Upas. Sabetan itu begitu cepat, memotong ujung jubah lusuh Kala saat pemuda itu merunduk dan berguling ke depan.

Kala tidak mundur, ia justru menerjang masuk ke dalam jangkauan pertahanan tombak panjang tersebut. Prajurit itu mengangkat lututnya yang berlapis baja untuk menghancurkan dada Kala. Namun, Kala bergerak lebih cepat. Ia menggunakan momentum gulingannya, melesat ke bawah kaki sang prajurit, dan menampar kuat pelat dada baja musuhnya dengan telapak tangan terbuka.

Sebuah Susuk Guntur kedua telah ia tanamkan menggunakan perekat getah jarak tepat di dada sang prajurit.

Kala melenting mundur dalam satu kedipan mata, bersamaan dengan jari Gayatri yang menjentikkan sebuah percikan sihir api sekecil kunang-kunang dari seberang lorong. Percikan api magis itu melesat dan menyentuh pangkal mesiu Susuk Guntur.

BLAM!

Ledakan tumpul kembali bergema. Kali ini, hantamannya tepat di titik jantung. Zirah baja itu tidak berlubang, tetapi tulang rusuk sang prajurit di baliknya hancur berkeping-keping akibat gelombang kejut murni. Prajurit itu tersedak darahnya sendiri, matanya terbelalak ngeri dari balik helm, sebelum akhirnya roboh menimpa rekannya dalam bunyi dentangan logam yang memekakkan telinga.

Napas Kala memburu cepat. Ia berdiri di atas kedua mayat elit keraton itu, menatap jemarinya yang gemetar dan sedikit hangus karena ledakan jarak dekat. "Susuk ini bekerja terlalu sempurna," gumamnya, menarik sudut bibirnya puas.

Gayatri berlari menghampirinya. Gadis itu menatap mayat-mayat berlapis baja itu dengan pandangan takjub sekaligus ngeri melihat kebrutalan jalanan yang dikuasai pemuda di depannya. "Jangan buang-buang senjatamu. Kita masih harus menghadapi Patih dan Telik Sandi."

"Jalan lurus ke depan, Putri," Kala mengangguk, kembali mengapit sisa susuk ledaknya. "Bau kemenyan ini semakin mencekik."

Mereka bergegas menyusuri lorong yang semakin menurun dan melebar. Lantai batu obsidian perlahan digantikan oleh pijakan batu andesit merah tua yang lengket oleh entah apa. Suhu udara anjlok drastis, namun hawa panas aneh justru terasa memancar dari dasar tanah, menciptakan kabut tipis setinggi lutut yang berbau seperti tembaga berkarat.

Di ujung lorong, sebuah gerbang perunggu raksasa setinggi dua puluh meter menjulang menghadang mereka. Inilah Gerbang Watu Gilang. Permukaan gerbang itu dipenuhi ukiran rumit yang menggambarkan sosok Antaboga naga bumi raksasa yang dililit oleh rantai-rantai berduri, dengan manusia-manusia berkasta tinggi meminum darah yang menetes dari taringnya.

Gerbang itu dibiarkan terbuka setengah. Tabuhan gamelan dan gema rapalan mantra kini terdengar sangat keras, menggetarkan dinding-dinding batu di sekeliling mereka.

Kala dan Gayatri merayap mendekati celah gerbang. Mereka mengintip ke dalam, dan apa yang mereka lihat di balik pintu perunggu itu membuat darah mereka membeku secara harfiah.

Ruangan itu bukanlah sebuah aula, melainkan sebuah kawah bawah tanah raksasa berbentuk piramida terbalik Candi Sengkala.

Di dasar kawah yang sangat dalam, sebuah altar batu hitam yang dinamakan Watu Gilang berdiri kokoh, dikelilingi oleh parit-parit alami yang dialiri oleh cairan kental berwarna merah menyala yang terus menggelegak Tuah Antaboga, darah magma sang naga bumi. Cahaya merah magma itu menerangi seluruh gua kawah, menciptakan ilusi bahwa mereka sedang berada di dalam perut monster raksasa yang hidup.

Namun yang membuat Gayatri seketika menutup mulutnya untuk menahan jeritan adalah tiga belas pilar obsidian raksasa yang berdiri melingkari Watu Gilang.

Di masing-masing pilar tersebut, dirantai sosok manusia yang mengenakan kain putih lusuh. Tubuh mereka kurus kering, dipenuhi bekas luka cambuk, rambut mereka memutih kusam termakan usia dan siksaan. Mantra-mantra penyegel bersinar kemerahan di rantai yang mengikat mereka. Mereka adalah sisa-sisa keluarga Gayatri para Penenun Mantra yang dikira telah tiada tiga belas tahun lalu, dipertahankan hidup-hidup di dalam kegelapan hanya untuk malam ini.

Di atas Watu Gilang, berdiri Patih Arya Danurdara. Ia tidak lagi mengenakan kain jarik sutra emas. Sang Patih mengenakan jubah ritual hitam kelam yang disulam dengan benang darah. Lengan kirinya yang telah membusuk menjadi cakar bersisik naga dibiarkan terbuka, mencengkeram sebuah cawan emas raksasa.

Di sebelah kanannya, berdiri diam tanpa suara, Sang Telik Sandi bertopeng merah, keris luk sembilannya telah dihunus dan meneteskan racun hitam ke lantai altar.

"Waktunya telah tiba!" suara Patih Danurdara menggelegar ke seluruh penjuru Candi Sengkala, mengalahkan suara gemuruh magma. Ia mendongak menatap celah raksasa di langit-langit kawah, di mana cahaya Rembulan Merah menyorot lurus tepat ke atas altar Watu Gilang. "Buka aliran darah Penenun Mantra! Biarkan segel tiga ratus tahun ini hancur, dan biarkan Keraton Atas terlahir kembali sebagai Dewa yang abadi!"

Kala merasakan cengkeraman tangan Gayatri di lengannya menancap kuat hingga kuku gadis itu menembus kulitnya. Kala menoleh. Mata keemasan Gayatri membasah oleh air mata kemarahan yang absolut.

Pemuda jalanan itu melepaskan tangan Gayatri dengan lembut. Ia mencabut paku rajah meteorit hitamnya yang kini telah dilapisi kerak darah kering sang putri Penenun Mantra.

"Sudah waktunya kita membatalkan pesta Priyayi ini," desis Kala, melangkah keluar dari balik gerbang perunggu, berjalan lurus memasuki Candi Sengkala, menuruni undakan batu menuju neraka yang menanti mereka di bawah sana.