Langkah pertama Kala menuruni undakan batu andesit Candi Sengkala terasa seperti melangkah masuk ke dalam mulut tungku pembakaran raksasa. Hawa panas yang memancar dari parit-parit magma Tuah Antaboga menggulung naik, mengeringkan keringat di kulitnya bahkan sebelum sempat menetes. Di kawah bawah tanah ini, bayangan tidak tercipta dari cahaya matahari, melainkan dari pendar merah kental magma dan sorot Rembulan Merah yang menusuk lurus dari celah vertikal raksasa di langit-langit kawah.
Setiap pijakan sepatu Kala memecah gema rapalan mantra yang dibawakan oleh puluhan abdi dalem berkerudung hitam yang bersimpuh mengelilingi altar. Tabuhan gamelan bernada rendah yang mereka mainkan tidak terdengar seperti musik, melainkan seperti rintihan bumi yang disiksa.
Gayatri berjalan di samping Kala. Langkah gadis itu gontai namun rahangnya mengeras. Matanya yang keemasan tidak berkedip menatap tiga belas pilar obsidian raksasa di sekeliling altar Watu Gilang. Di sana, keluarga dan kerabatnya—para Penenun Mantra yang selama tiga belas tahun dianggap telah musnah—terantai bagai hewan persembahan. Kulit mereka pucat pasi menempel pada tulang, mata mereka cekung dan kosong, pakaian sutra mereka telah lama membusuk menjadi kain rombeng yang berlumur darah kering.
"Paman Arsa... Bibi Nindya..." bibir Gayatri bergetar, merapalkan nama-nama kerabatnya yang kini tampak seperti mayat hidup. Rasa bersalah, duka, dan amarah meledak menjadi satu, membuat urat-urat magis di leher Gayatri menyala redup keemasan.
Di pusat altar Watu Gilang, Patih Arya Danurdara menghentikan rapalan mantranya. Ia menoleh perlahan. Jubah ritual hitamnya yang disulam benang darah berkibar pelan tersapu hawa panas magma. Wajahnya yang arogan memancarkan senyum miring yang teramat merendahkan saat melihat kedatangan Kala dan Gayatri.
"Tikus tanah selalu menemukan jalan kembali ke selokannya," suara sang Patih bergema menembus bisingnya magma, diperkuat oleh kanuragan murni yang melapisi pita suaranya. Ia mengangkat tangan kirinya yang bermutasi parah—lengan membusuk yang ditumbuhi sisik naga kemerahan dan cakar-cakar tajam berbau belerang. "Tapi aku sungguh tidak menyangka kau akan datang menyerahkan dirimu sendiri secara sukarela, Putri Gayatri. Tiga belas jiwa di pilar ini sudah terlalu tua dan lemah untuk membuka segel utama... darah mudamu adalah anggur penutup yang sempurna untuk membangunkan sang naga."
"Kau iblis yang membusuk, Danurdara!" jerit Gayatri, suaranya pecah oleh amarah yang absolut. "Kau menahan mereka hidup-hidup di dalam kegelapan hanya untuk menyedot darah mereka selama belasan tahun! Kau tidak akan pernah menjadi Dewa, kau hanya akan mati sebagai monster yang memakan kotorannya sendiri!"
Tawa Danurdara menggelegar, suara yang terdengar seolah dua orang tertawa bersamaan dari satu kerongkongan. "Dewa tidak lahir dari kemurnian, Putri. Dewa lahir dari pengorbanan! Ketika Antaboga menyerap darah kalian malam ini, segelnya akan hancur, dan inti jantungnya akan menjadi milikku. Aku akan menjadi bumi itu sendiri!"
Kala tidak membuang waktu mendengarkan omong kosong sang Patih. Matanya yang sinis dan tajam telah memindai seluruh arsitektur Candi Sengkala. Puluhan abdi dalem, parit magma setebar tiga meter yang memisahkan area luar dengan altar utama, dan satu-satunya jembatan batu sempit yang dijaga oleh Sang Telik Sandi bertopeng merah.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran mayat hidup, Priyayi," gertak Kala.
Dengan kecepatan kilat, Kala mencabut tiga batang Susuk Guntur berukuran kecil dari sabuknya, menjepitnya di sela-sela jarinya, dan melemparkannya bukan ke arah sang Patih, melainkan ke arah barisan abdi dalem pembawa gamelan di sisi kiri altar.
SYUT! SYUT! SYUT!
Ketiga jarum mesiu itu menancap di permukaan perunggu gong dan saron raksasa. Kala memicu ledakannya dengan menghantamkan paku meteorit ke lantai batu andesit di bawahnya, memantik percikan api yang menyambar jejak serbuk mesiu tak kasat mata yang sengaja ia taburkan saat berjalan turun tadi.
BLAM! BLAM! BLAM!
Rentetan ledakan memekakkan telinga merobek aula kawah. Gong perunggu hancur berkeping-keping, melempar pecahan logam tajam ke segala arah. Belasan abdi dalem menjerit kesakitan, terlempar ke udara dengan tubuh terkoyak.
Harmoni tabuhan gamelan seketika hancur berantakan. Rapalan mantra yang mengikat energi altar terputus secara brutal. Lingkaran sihir merah yang mengelilingi Watu Gilang berkedip redup.
"Kurang ajar! Bunuh kecoa itu!" raung Patih Danurdara, murka melihat ritual sucinya dinodai oleh trik jalanan murahan.
Sang Telik Sandi bertopeng merah tidak menunggu perintah itu selesai. Sosoknya meledak menjadi kepulan asap hitam pekat, lenyap dari atas jembatan batu, dan dalam pecahan detik berikutnya, muncul tepat di udara di atas kepala Kala bagai malaikat maut.
Keris luk sembilannya menebas turun, membawa gelombang Bolo Upas—racun pembeku jiwa—yang membelah udara dengan suara mendesis tajam.
"Gayatri, bebaskan keluargamu!" teriak Kala sembari menjatuhkan dirinya ke belakang, berguling liar menghindari tebasan keris itu.
Bilah keris Sang Telik Sandi menghantam lantai batu andesit tempat Kala berdiri sedetik sebelumnya. Batu sekeras baja itu seketika meleleh menjadi genangan lumpur beracun yang mendidih.
Gayatri tidak membuang kesempatan. Dengan sisa sihir perlindungannya, ia melesat lurus melewati jembatan batu, berlari kencang menuju pilar obsidian tempat kerabat tertuanya dirantai. Tangan kanannya merogoh tabung tembaga, menarik keluar Kunci Jarum Tulang berukir Aksara Kawi.
Melihat Gayatri mendekati pilar, mata Patih Danurdara membelalak. Ia mengenali jarum tulang keramat tersebut.
"Kunci Sandi Jiwa?! Darimana kau mendapatkan pusaka itu?!" geram sang Patih. Ia meninggalkan posisinya di pusat altar, mengayunkan cakar mutasinya yang memancarkan aura merah magma, berniat menghancurkan tulang rusuk Gayatri sebelum gadis itu sempat memasukkan kuncinya.
Sementara itu, di bibir kawah, Kala sedang bertaruh nyawa menghadapi Sang Telik Sandi.
Ini bukan pertarungan preman pasar gelap biasa. Telik Sandi bertopeng merah itu tidak memiliki celah. Gerakannya adalah tarian pembunuh yang sempurna—tanpa suara, tanpa ragu, dipenuhi oleh kebencian murni. Sabetan demi sabetan keris beracun memaksa Kala mundur selangkah demi selangkah mendekati bibir parit magma. Hawa panas dari belakang punggungnya mulai membakar tumit sepatu botnya.
Kala menangkis satu tebasan keris musuhnya menggunakan lengan kirinya yang dibalut sarung tangan tebal berlapis pelat besi perlengkapan tempa yang selalu ia pakai.
TRANG! SSSSSS!
Keris beracun itu gagal menembus pelat besi, namun racunnya mulai melelehkan logam sarung tangan Kala dengan cepat. Rasa panas menyengat menembus kulitnya. Sambil menahan rasa sakit, Kala memutar tubuhnya dan menghantamkan tinju kanannya yang menjepit Susuk Guntur terbesar langsung ke arah dada Sang Telik Sandi.
Telik Sandi itu tidak menghindar. Ia membiarkan tinju Kala menghantam dadanya yang dilapisi zirah sutra penahan sihir.
Namun Kala tersenyum sinis. "Makan ini, Anjing Keraton."
BZZZZ-DUAARR!
Ledakan mesiu jarak dekat itu meledak lurus menembus dada Sang Telik Sandi. Gelombang kejutnya luar biasa hebat. Namun, bukannya hancur, tubuh si pembunuh bayaran itu hanya terpental mundur sejauh tiga meter. Zirah sutranya robek besar, memperlihatkan kulit dadanya yang berwarna merah membara dengan urat-urat hitam tebal yang berdenyut liar efek samping mengonsumsi Tuah Antaboga.
Sang Telik Sandi mengerang serak. Topeng kayu merah darahnya retak di bagian tengah, memperlihatkan sebelah matanya yang sepenuhnya berwarna hitam legam tanpa pupil.
"Kau tidak bisa membunuhku dengan bubuk mesiu kotor, Bocah Akar," desis Sang Telik Sandi, suaranya terdengar seperti gesekan batu gerinda. "Tubuhku telah diubah oleh darah naga."
"Kita lihat saja nanti," balas Kala, mencabut paku rajah meteoritnya yang berwarna merah kehitaman, senjata pamungkas yang telah dilapisi darah suci Gayatri.
Di saat yang sama, teriakan histeris membelah udara aula.
"TIDAAAKK!"
Kala menoleh secepat kilat. Di atas altar Watu Gilang, Gayatri terlempar jauh, menghantam keras pilar obsidian. Tubuhnya roboh ke lantai, Kunci Jarum Tulang terlepas dari genggamannya.
Patih Danurdara berdiri di hadapan pilar tempat paman Gayatri dirantai. Cakar mutasinya menancap dalam-dalam di dada pria tua yang malang itu. Pria itu bahkan tidak sanggup menjerit. Matanya melotot saat Danurdara merobek jantungnya secara brutal.
Darah kental bercampur aura magis dari kerabat Gayatri menyembur keluar, tumpah membasahi lantai altar, mengalir masuk ke dalam parit-parit ukiran yang terhubung langsung ke batu Watu Gilang di tengahnya.
Sorot Rembulan Merah dari langit-langit kawah seketika bereaksi saat menyentuh darah suci tersebut. Cahayanya meledak menjadi pilar sinar merah menyilaukan yang menghujam lurus ke jantung Watu Gilang.
KRAAAKKK! BOOMMM!
Gempa bumi berintensitas dahsyat seketika meruntuhkan stalaktit-stalaktit di langit-langit kawah. Batu-batu seukuran kereta kuda berjatuhan menghantam parit magma. Suhu ruangan mendadak naik berkali-kali lipat hingga membuat udara di sekeliling mereka beriak karena fatamorgana panas.
Dari kedalaman bumi di bawah Watu Gilang, terdengar raungan parau yang tak terlukiskan. Bukan suara binatang, melainkan suara gesekan lempeng bumi yang hidup dan bernapas. Suara dari Antaboga.
Rantai gaib pertama yang menahan sang naga bumi selama tiga ratus tahun telah putus.
"Rasakan itu!" raung Patih Danurdara dalam ekstase kegilaan, mengangkat cakarnya yang berlumuran darah ke udara sementara gempa terus mengguncang. "Bumi telah menjawabku! Berikan aku darah Penenun Mantra yang tersisa!"
Kala merasakan keputusasaan merayap di tengkuknya. Waktu mereka telah habis. Ritualnya telah dimulai. Namun, saat ia melihat Gayatri yang berusaha merangkak meraih Kunci Jarum Tulang di lantai dengan tangan gemetar berlumur darah, rahang Kala kembali mengeras.
"Fokus padaku, Bajingan!" teriak Kala pada Telik Sandi di depannya, mengangkat paku meteorit berdarahnya. "Kutukan nagamu berakhir di sini!"
Dengan sisa tenaga dan amarah dendam orang-orang Kota Akar, Kala menerjang maju, menantang pembunuh paling mematikan di Keraton Atas di atas lantai yang perlahan retak dan runtuh menuju lautan magma.