← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 4 of 18

BAB 3: Jejak Abu Mpu Dirga

by The Arc

Air selokan yang pekat memuntahkan Kala di sudut tergelap Pasar Gelap Kota Akar. Tubuhnya terhenyak di atas tumpukan sampah dan sisa sayuran membusuk, terengah-engah meraup udara pengap yang berbau minyak kencur dan asap tembakau murah. Setiap helai napas yang ia tarik mengarahkan rasa sakit menusuk di dada kirinya dua tulang rusuknya pasti retak akibat hempasan gelombang api di bengkel tadi.

Dengan gemetar, Kala meraba bumbung bambu di pinggangnya. Benda itu masih utuh, terkunci rapat di balik lapisan lilin pelindung. Naskah lontar sisik Antaboga aman, tapi kehidupannya sebagai peracik susuk sudah rata dengan tanah.

Kala memaksakan tubuhnya berdiri, bersandar pada dinding tebing batu yang basah oleh kelembapan abadi. Di hadapannya, Pasar Gelap berdenyut dalam keos remang-remang. Ratusan lampion kertas berwarna merah kusam bergelantungan di antara tenda-tenda kain kumuh. Di sini, para pencuri, penjual barang selundupan keraton, dan pemabuk berbaur tanpa peduli hukum. Namun, Kala tahu benar bahwa di antara kerumunan manusia terbuang ini, ada mata dan telinga milik para Priyayi yang siap menjual nyawanya demi seikat koin emas.

Ia menyunggingkan tudung kain lusuhnya rendah-rendah, menutup wajahnya yang bernoda jelaga, lalu melangkah tertatih menembus lorong-lorong sempit. Ia tidak bisa pergi ke tabib jalanan. Berita tentang ledakan di bengkelnya pasti sudah menyebar, dan Telik Sandi bertopeng merah itu tidak akan berhenti memburunya.

Satu-satunya tujuan Kala adalah toko jamu tua di ujung lorong belakang pasar sebuah bangunan kayu lapuk yang telah disegel kain kuning Keraton sejak kematian Mpu Dirga sebulan lalu.

Menyelinap dari celah fondasi bawah yang membusuk, Kala merayap masuk ke dalam ruangan yang pengap. Bau abu kemenyan kering dan sisa akar-akaran menyengat hidungnya. Tempat itu telah diacak-acak oleh prajurit kerajaan sebulan lalu; lemari-lemari ukir dihancurkan dan gerabah obat dipecahkan. Namun, para prajurit itu adalah orang-orang keraton yang tidak memahami cara berpikir seorang tempa besi jalanan.

Kala merayap mendekati sudut ruangan tempat sebuah patung kayu Dwarapala berukuran kecil berdiri di atas altar. Dengan jemarinya yang berdarah, ia memutar telinga kiri patung itu hingga terdengar bunyi klik yang halus.

Papan kayu di dinding belakang altar bergeser pelan, memperlihatkan sebuah rongga rahasia. Di dalamnya tidak ada koin perak atau pusaka berharga, melainkan sebuah mangkuk tanah liat berisi abu hitam pekat sisa pembakaran catatan pribadi Mpu Dirga dan selembar kain perca berlapis sulaman benang emas yang kusam.

Kala mengambil kain perca itu. Di atas permukaannya, tertulis sebaris kalimat dalam Aksara Kawi menggunakan tinta darah yang telah mengering hitam:

“Lontar tidak bisa dihancurkan oleh api besi. Namun jika ia terbangun, hanya darah Penenun Mantra dari Keraton Atas yang bisa mengunci kembali taring Antaboga.”

Kala mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Mpu Dirga sudah tahu sejak awal bahwa bahaya ini melibatkan tatanan tertinggi kerajaan.

Tiba-tiba, dari arah jalanan batu di luar toko jamu, terdengar langkah kaki berderap teratur. Bukan langkah santai para preman pasar, melainkan langkah sepatu bot baja milik Pasukan Pengawal Keraton.

"Geledah setiap sudut! Pria itu terluka dan membawa barang curian dari bengkel bawah!" teriak sebuah suara berat dari luar.

Kala menyelipkan kain perca itu ke dalam kantungnya, menggenggam erat bumbung bambunya, dan bersiap kembali menghilang ke dalam kegelapan lorong Kota Akar.