← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 5 of 18

BAB 4: Pengkhianatan di Arena Sabung

by The Arc

Derap langkah bot baja para pengawal keraton bergema di lorong batu, mengepung toko jamu tua dari depan. Tanpa membuang waktu, Kala menyelipkan kain perca Mpu Dirga ke balik dadanya, merayap keluar lewat celah fondasi belakang yang berlumut, dan membenamkan dirinya kembali ke dalam hiruk-pikuk Pasar Gelap.

Di bawah remang lampion merah yang menggantung kusam, Kala berjalan tertatih. Dada kirinya berdenyut nyeri luar biasa setiap kali ia mengambil napas tebal. Tanpa uang, tanpa tempat tinggal, dan dengan seluruh pengawal keraton yang kini menyisir pasar, ia butuh dua hal: koin emas untuk melarikan diri dari Kota Akar dan tempat bersembunyi sementara.

Tujuannya cuma satu: Arena Sabung Manusia di kedalaman Distrik Darah.

Arena itu dibangun di dalam bekas lubang tambang batu kapur yang mangkrak. Suara teriakan riuh rendah ribuan penonton, aroma tuak tebu, dan amis darah segar menyambut Kala begitu ia menyelinap masuk ke balik tirai kain terpal yang tebal. Di tengah arena melingkar bertembok kayu jati, dua pria bertelanjang dada saling hantam dengan sengit.

Salah satunya adalah Jaro.

Preman gempal itu bertarung seperti banteng keturunan iblis. Otot-otot punggungnya mengencang keras, dan di tengkuknya, ruam kehitaman bekas susuk paku baja buatan Kala berdenyut keemasan di bawah cahaya obor. Lawannya seorang petarung jangkung berotot kering mencoba mengayunkan pipa besi ke arah leher Jaro. Namun, begitu besi itu menghantam tengkuk Jaro, pipa tersebut justru bengkok, sementara Jaro sama sekali tidak bergeming.

Dengan satu raungan buas, Jaro menghantamkan tinjunya tepat ke rahang lawannya. Tulang rahang pria itu pecah berderak, dan tubuhnya terlempar menghantam pagar kayu arena sebelum tergeletak tak berkutik.

Penonton bersorak histeris. Koin-koin perunggu dan perak berterbangan ke dalam arena.

"Pemenangnya, Jaro Sang Tengkorak Besi!" teriak sang bandar arena.

Setengah jam kemudian, Kala menunggu di lorong remang belakang arena tempat para petarung membersihkan darah dan membagi uang taruhan. Jaro sedang menyiram kepalanya dengan seember air kotor ketika Kala melangkah keluar dari balik bayangan tiang batu.

"Susukmu bekerja sangat ampuh, Kala," kekeh Jaro saat melihat pemuda itu. Matanya yang merah menyapu tubuh Kala yang penuh luka dan jelaga. "Kudengar bengkelmu meledak tadi malam. Ada apa dengan mukamu yang mengenaskan itu?"

"Aku butuh koin sisa pembayaranmu, Jaro," desis Kala datar, berusaha menahan napas agar tulang rusuknya tidak makin bergeser. "Sekaligus tempat aman untuk bersembunyi sampai besok pagi."

Jaro menyeringai, mengambil kain kotor untuk menyapu keringat di dadanya. "Tentu, tentu. Kau yang membantuku menang malam ini. Mari ikut ke ruanganku di belakang, koin emasmu ada di sana."

Kala mengamati gerak-gerik preman itu. Ada sesuatu yang janggal dari cara Jaro mengedipkan mata ke arah dua penjaga arena di ujung lorong. Namun, rasa sakit di dadanya dan kelelahan yang luar biasa tumpul memotong kewaspadaannya.

Begitu Kala melangkah melewati ambang pintu ruangan kayu Jaro, pintu di belakangnya seketika dibanting menutup dan dikunci dari luar.

Kala dengan cepat memutar tubuhnya, namun terlambat. Empat pria berbadan tegap dengan parang terhunus sudah berdiri mengelilinginya di dalam ruangan sempit itu. Di sudut meja, berdiri sebuah peti kayu kecil yang terbuka memperlihatkan tumpukan koin emas Keraton yang masih berkilau bersih.

Jaro melangkah masuk dari pintu samping, menggenggam selembar kertas buronan berstempel tinta merah Keraton Atas. Di kertas itu, tergambar sketsa wajah Kala.

"Maafkan aku, Bocah," ujar Jaro dengan senyum serakah yang menjijikkan. Ia menepuk-nepuk peti koin emas di depannya. "Satu susuk buatanmu hanya memberiku belasan koin perunggu. Tapi keraton... mereka menawarkan seratus koin emas murni untuk kepalamu dan bumbung bambu di pinggangmu itu."

Kala menyipitkan matanya, tangan kanannya pelan-pelan merogoh kantung paku rajah terakhir di sabuknya. "Kau menjual orang yang membuatmu kebal, Jaro?"

"Ini bukan personal, Kala. Ini cuma bisnis jalanan," kekeh Jaro buas. Ia memberi isyarat pada empat anak buahnya. "Patahkan kedua kakinya dulu. Jangan sampai dia mati sebelum para pengawal keraton datang menjemput."

Empat parang mengilat menyambar serentak dalam kegelapan ruangan, mengunci posisi Kala tanpa ada celah sedikit pun untuk kabur.