← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 6 of 18

BAB 5: Taring Sang Telik Sandi

by The Arc

Satu parang menyambar miring mengincar leher Kala, sementara tiga lainnya bergerak memotong jalur melarikan dirinya. Dalam posisi terdesak dengan dua tulang rusuk retak, Kala tidak punya ruang untuk menghindar.

Ia menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke lantai batu yang kotor, membiarkan mata parang pertama menebas udara kosong di atas kepalanya. Sambil berguling di antara celah kaki para preman, tangan kanan Kala menghantamkan paku rajah meteoritnya tepat ke urat nadi di pergelangan kaki salah satu pengeroyok.

Pria itu menjerit histeris ketika ilmu kebal murahan di kulitnya tembus, darah segar menyembur keluar. Namun, sebelum Kala sempat bangkit, tendangan sepatu bot berat milik Jaro menghantam dada kirinya dengan telak.

KRAAAK!

Rasa sakit yang membakar seketika membutakan penglihatan Kala. Tubuhnya terlempar menghantam peti kayu berisi koin emas hingga hancur berantakan. Koin-koin murni itu berserakan di tanah, terpercik darah dari bibir Kala yang memuntahkan cairan merah pekat.

"Sudah kubilang, jangan menyulitkan diri sendiri, Bocah," kekeh Jaro serak. Pria gempal itu melangkah mendekat, mencabut keris bergerigi dari pinggangnya. "Bumbung bambu di pinggangmu itu milik keraton sekarang."

Jaro membungkuk, tangannya yang kasar meraup bumbung bambu di pinggang Kala. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh wadah lontar tersebut, keheningan yang abnormal mendadak menyelimuti seluruh ruangan.

Suara riuh rendah ribuan penonton dari arena sabung di luar ruangan seketika senyap. Lampion-lampion minyak yang tergantung di dinding mati bersamaan, menyisakan pendar kegelapan yang pekat dan bau belerang panas yang amat menyengat.

"Jaro... ada apa di luar?" bisik salah satu anak buahnya dengan suara gemetar.

CRACK.

Dinding kayu tebal ruangan itu terbelah dua. Bukan karena dihantam beban berat, melainkan terpotong rapi oleh sebaris garis kehitaman yang bergetar. Dalam hitungan detik, dinding itu ambruk menjadi serpihan abu hitam.

Di balik reruntuhan abu, berdiri sesosok bayangan jangkung yang dibalut kain lurik hitam. Wajahnya tertutup Topeng Kelana kayu berwarna merah darah dengan senyum iblis yang menyeringai menembus kegelapan. Di tangan kanannya, keris luk sembilan meneteskan cairan beracun yang membusukkan lantai tanah.

Sang Telik Sandi telah menemukan mereka.

"Si-siapa kau?!" teriak Jaro gagap, mendadak kehilangan keberaniannya. Ia mengacungkan kerisnya dengan tangan gemetar. "Ini wilayah Distrik Darah! Keraton tidak punya kekuasaan di sini!"

Sang Telik Sandi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggerakkan jemarinya yang terbalut kain hitam pelan.

SWISSH!

Bilah keris beracun itu menyambar menembus kegelapan dengan kecepatan yang tak sanggup ditangkap oleh mata telanjang. Tiga anak buah Jaro bahkan tidak sempat berteriak kepala mereka terpenggal serentak dari leher, roboh ke tanah sebelum setetes darah pun sempat menyembur dari leher mereka yang menghitam terbakar racun.

Jaro melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Susuk paku baja di tengkuknya berdenyut liar, mencoba menahan aura kematian murni yang memancar dari pembunuh elit keraton tersebut.

"Kau... kau anjing pembunuh keraton..." ratap Jaro ketakutan.

"Serahkan lontar itu, atau jiwamu akan kuberikan pada Antaboga," suara berat dari balik topeng merah itu menggelegar, memancarkan tekanan kanuragan yang membuat napas Jaro terhenti.

Sementara Sang Telik Sandi mengunci perhatiannya penuh pada Jaro, dari sudut ruangan tergelap di balik bayangan peti emas yang hancur sebuat tangan halus berbalut gelang perak berukir kuno tiba-tiba menggenggam bahu Kala.

Kala terperanjat, hendak merogoh senjata terakhirnya, namun sebuah bisikan lembut dan dingin terdengar tepat di samping telinganya.

"Kalau kau ingin hidup dan paham arti tulisan Mpu Dirga, tutup mulutmu dan ikut aku sekarang."

Kala mendongak sedikit. Di balik selubung kain sutra hitam yang menutup sebagian wajahnya, sepasang mata jernih berwarna keemasan menatap lurus ke arahnya. Wanita itu mengenakan pakaian khas bangsawan Keraton Atas yang tersembunyi di balik jubah gelap.

Sebelum Sang Telik Sandi menyadari keberadaan mereka, wanita itu melempar sebuah jimat kertas berukir Aksara Kawi ke lantai. Jimat itu meledak dalam pendar cahaya keemasan yang silau, menciptakan ilusi bayangan dan asap harum bunga kantil yang membuyarkan konsentrasi sang pembunuh.

Dalam keos beberapa detik itu, wanita misterius tersebut menarik tubuh Kala melompati jendela belakang ruangan, menghilang bersama sang peracik susuk ke dalam lorong-lorong tersembunyi Kota Akar.