Langkah kaki wanita itu begitu ringan, seolah badannya tidak menyentuh lantai batu lorong yang basah. Ia memapah tubuh Kala yang semakin berat menahan sakit, menyusuri celah-celah tersembunyi di balik dinding Kota Akar yang bahkan tak pernah dipetakan oleh para preman pasar gelap.
Setiap kali napas Kala terengah, rusuknya yang retak serasa ditusuk ratusan jarum panas. Penglihatannya mulai kabur, namun ia terus memaksakan kakinya melangkah, dipicu oleh kewaspadaan liar bahwa wanita bangsawan di sampingnya ini bisa saja menikam lehernya sewaktu-waktu.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu batu tua yang tertutup selimut akar pohon beringin raksasa. Wanita itu menempelkan telapak tangannya ke permukaan batu yang dingin, membisikkan satu bait kalimat dalam bahasa Kawi Kuno. Akar-akar kering di pintu itu mendadak bergerak bagai ular, terangkat pelan dan membukakan jalan menuju sebuah ruangan tersembunyi.
Bau harum minyak melati dan kayu cendana seketika menyapu bau busuk Kota Akar. Ruangan itu tampak seperti pertapaan kuno diterangi pendar kristal air yang menetes dari atap tebing, dipenuhi gulungan kitab kulit kayu dan cawan-cawan kuningan.
"Duduk di situ," perintah wanita itu dingin, melepaskan pegangannya dan membiarkan Kala terjerembap di atas bale-bale kayu jati.
Kala menggeram, memegang dadanya yang membiru sembari menyandar lemah. Tangan kanannya meraba bumbung bambu di pinggang benda itu masih ada. Matanya yang tajam menatap cermat wanita yang kini perlahan melepaskan selubung kain sutra hitam yang menutup wajahnya.
Wajah wanita itu tegas namun anggun, dengan kulit kuning langsat khas bangsawan Keraton Atas yang tak pernah tersentuh jelaga. Namun, yang paling mencolok adalah sepasang matanya kelereng matanya berwarna keemasan jernih, memancarkan aura kanuragan yang begitu pekat.
"Orang Keraton," desis Kala penuh kebencian, meludahkan sisa darah dari mulutnya ke lantai. "Anjing-anjing priyayi seperti kalian yang membantai Mpu Dirga dan meratakan rumahku. Mau apa kau dari lontar ini?"
Gadis itu tidak terpancing oleh cemoohan Kala. Ia berjalan mendekati meja racikan, mengambil sebuah botol porselen putih dan sejumput daun jarak kering, lalu menumbuknya dengan gerakan tenang.
"Kalau aku mau lontar itu, aku tinggal membiarkan Sang Telik Sandi memenggal lehermu di arena tadi, Bocah Tempa," jawab gadis itu datar. "Nama gurumu Mpu Dirga. Dan namaku Gayatri."
Kala mengerutkan keningnya. "Gayatri..."
"Garis keturunan terakhir dari para Penenun Mantra," lanjut Gayatri sambil berjalan mendekati Kala. Tanpa meminta izin, ia merobek baju Kala yang ternoda jelaga, menyingkapkan memar kehitaman di dada kiri pemuda itu.
"Jangan sentuh"
Sebelum Kala sempat memprotes, Gayatri menempelkan telapak tangannya yang diolesi racikan daun ke atas rusuk Kala yang patah. Ia memejamkan mata, memancarkan pendar cahaya keemasan lembut dari seluruj jemarinya.
Arah Mantra Penyembuh.
Kala tersentak. Hawa hangat yang menyejukkan seketika menjalar menembus pori-pori kulitnya, merapatkan kembali susunan tulang rusuknya yang bergeser. Rasa sakit yang semula mencekik mendadak reda menjadi denyutan halus.
"Mpu Dirga bukan sekadar sejarawan," ujar Gayatri pelan, matanya tetap terpejam saat mengalirkan energinya. "Dia adalah abdi kepercayaan keluargaku sebelum Keraton Atas membantai seluruh Penenun Mantra tiga belas tahun lalu. Ayahku dibunuh karena menolak menyerahkan rahasia darah kami untuk membangkitkan Antaboga."
Gayatri menarik tangannya kembali. Cahaya keemasan di jarinya padam, menyisakan napasnya yang sedikit memburu.
Kala memegang dadanya sendiri. Patah tulangnya memang belum sembuh total, tapi ia sudah bisa bernapas lega tanpa meringis. Ia menatap Gayatri dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang campur aduk.
"Tulisan Mpu Dirga di kain perca itu..." ujar Kala pelan, merogoh kain perca kuno dari sakunya. "Dia bilang hanya darah Penenun Mantra yang bisa mengunci kembali taring Antaboga."
Gayatri melirik kain perca itu, lalu menatap bumbung bambu di pinggang Kala.
"Priyayi Keraton Atas tidak cuma ingin menguasai kerajaan," kata Gayatri dingin. "Mereka butuh darahku untuk menyempurnakan ritual Malam Purnama Darah, dan mereka butuh lontar sisik naga yang kau genggam itu sebagai wadahnya."
Gadis itu melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang halus ke arah Kala.
"Kau punya peta jalan rahasianya, dan aku punya darah untuk membacanya," tegas Gayatri. "Kita punya musuh yang sama, Kala. Jadi, tunjukkan padaku peta di lontar itu."