← Bara di Kota Akar: Misteri Sisik Antaboga

Chapter 8 of 18

BAB 7: Aksara yang Terbakar

by The Arc

Gema gemericik air yang menetes dari stalaktit di atap goa terdengar bagai detak jarum jam yang lambat dan dingin. Di dalam pertapaan rahasia Gayatri, bau amis darah dan jelaga Kota Akar yang biasanya menempel di kulit Kala perlahan luluh, terdesak oleh aroma pekat minyak cendana, kayu gaharu yang dibakar redup, dan uap dari cawan-cawan tembaga tempat akar-akaran obat direbus.

Kala menggerakkan lehernya pelan, menguji sisa-sisa rasa sakit di dada kirinya. Sihir Arah Mantra Penyembuh milik Gayatri memang ajaib tulang rusuknya yang sebelumnya retak dan menghimpit paru-paru kini rasanya seperti sudah tersambung kembali, meski gumpalan memar kehitaman di kulitnya masih menyisakan sensasi ngilu yang menusuk tiap kali ia menarik napas panjang.

Di tengah ruangan, Gayatri berdiri membelakangi Kala. Gaun sutra hitamnya yang kusam meliuk pelan mengikuti sapuan angin dingin yang keluar dari celah tebing batu. Jemari lentiknya yang dilapisi beberapa cincin perak tua dengan teliti menyusun lima buah cawan perunggu di atas meja batu hitam. Masing-masing cawan diisi oleh cairan yang berbeda: air raksa murni, minyak kencur, serbuk belerang kuning, cairan sari melati, dan gumpalan tanah merah dari pemakaman leluhur Keraton.

"Kau masih meragukanku, Peracik Susuk," ujar Gayatri tanpa menoleh. Suaranya memantul halus di dinding batu yang lembap. "Tanganmu dari tadi tidak pernah lepas dari hulu pasak meteoritmu itu."

Kala menyeringai tipis, namun matanya tetap tajam mengawasi setiap gerak-gerik gadis bangsawan itu. "Di Kota Akar, orang yang terlalu cepat percaya pada senyuman atau bantuan tanpa imbalan biasanya berakhir jadi mayat di selokan besok paginya. Apalagi kalau bantuan itu datang dari seorang Priyayi."

Gayatri membalikkan tubuhnya. Di bawah pendar cahaya biru dari kristal air yang tergantung di langit-langit, mata keemasannya tampak dingin, namun ada gurat duka yang amat dalam di sudut matanya duka milik seseorang yang telah kehilangan seluruh keluarga dan dunianya dalam satu malam.

"Priyayi yang kau benci itu sudah memburu seluruh keluargaku sampai habis, Kala," potong Gayatri pelan, nada suaranya mengeras. "Bagi para penguasa di atas sana, darah Penenun Mantra seperti kami hanyalah alat. Kalau kami tunduk, kami dijadikan budak ritual. Kalau kami melawan, kami dibantai dan sejarah kami dihapus dari babad kerajaan."

Gadis itu berjalan mendekati meja batu di tengah ruangan, lalu menarik sebuah kursi kayu ukir yang sudah berdebu. Ia menunjuk ke arah meja. "Keluarkan lontarnya. Waktu kita tidak banyak. Mantra Ilusi yang kupasang di pintu depan hanya akan mengecoh Telik Sandi itu sampai fajar menyingsing."

Kala melepaskan bumbung bambu di pinggangnya. Dengan pisau kecil, ia mengelupas lapisan lilin lebah yang menyegel penutup bambu tersebut. Bunyi pop pelan terdengar saat udara hampa di dalam wadah terlepas.

Dari dalam bumbung, Kala menarik keluar gulungan lontar sisik Antaboga.

Begitu lontar itu ditaruh di atas meja batu hitam, suasana ruangan mendadak berubah. Udara di dalam pertapaan terasa menjadi lebih berat, seolah kerapatan molekul udara di sekeliling mereka mendadak menebal. Susunan sisik hitam pekat di sampul lontar itu terasa hangat, berdenyut pelan dalam irama yang konstan mirip dengan detak jantung raksasa yang tertidur jauh di kedalaman bumi.

Gayatri menahan napasnya. Tangan kanannya terangkat gemetar, mendekati permukaan sisik tersebut namun berhenti seujung kuku sebelum menyentuhnya.

"Luar biasa..." bisik Gayatri, matanya membelalak kagum bercampur ngeri. "Ini bukan buatan manusia. Ini adalah Sisalika sisik yang dilepaskan Antaboga saat bumi berganti poros tiga ratus tahun lalu. Mpu Dirga benar-benar mempertaruhkan nyawanya untuk menyimpan benda ini."

"Waktu di bengkel, aku cuma bisa membukanya menggunakan serbuk perak dan mantramu," kata Kala, ikut mendekat ke tepi meja. "Tapi map yang muncul cuma berupa garis-garis kasar. Ada bagian dari Kawi Kuno di sudut peta yang selalu kabur setiap kali kucoba baca."

"Tentu saja kabur," sahut Gayatri. Ia merogoh sebuah pisau belati kecil berukir naga dari balik pinggangnya. "Lontar ini dikunci menggunakan Sandi Jiwa. Serbuk perakmu cuma membakar lapisan luarnya. Untuk membuka inti memorinya, kau butuh kunci yang ditulis dengan bahasa yang sama dengan pembuatnya."

Tanpa ragu sedikit pun, Gayatri menggoreskan mata pisau belatinya ke telapak tangan kirinya sendiri.

Darah segar berwarna merah pekat beraroma harum bunga kantil menyembur keluar. Gayatri tidak meringis sedikit pun. Dengan tenang, ia mengepalkan tangannya di atas gulungan lontar sisik Antaboga, membiarkan tetes demi tetes darah mulianya jatuh menembus susunan sisik hitam tersebut.

Cesss!

Suara desisan nyaring menggema di dalam ruangan, disusul asap tipis berbau ozon dan kemenyan. Begitu darah Gayatri menyentuh permukaan sisik, sisik-sisik hitam yang semula mengatup rapat itu mendadak bergerak memekar bagai kelopak bunga lotus besi yang mekar di tengah malam.

Lontar itu membentang dengan sendirinya di atas meja batu.

Urat-urat emas yang sebelumnya redup kini meledak dalam pendar cahaya keemasan yang sangat silau. Cahaya itu tidak hanya melapisi permukaan lontar, melainkan memancar keluar, memproyeksikan bayangan tiga dimensi berukuran raksasa yang membumbung tinggi hingga menyentuh langit-langit goa.

Kala dan Gayatri melangkah mundur seketika, terpana menatap pendar ilusi keemasan yang kini berputar di sekeliling mereka.

Itu adalah peta komplit seluruh wilayah kerajaan mulai dari kedalaman selokan Kota Akar, lorong-lorong tambang abandon, hingga tatanan megah Keraton Atas. Garis-garis cahaya itu memetakan struktur bangunan dengan presisi luar biasa: lorong rahasia di balik balai penghadapan, saluran udara bawah tanah, hingga fondasi pilar-pilar raksasa penopang istana.

Namun, perhatian Kala tertuju pada bagian dasar peta tersebut tepat di bawah tahta sang Raja.

Di sana, di kedalaman tanah yang paling dalam, tergambar sebuah bangunan berbentuk piramida terbalik yang dipenuhi ukiran rantai-rantai raksasa. Bangunan itu dinamai dalam aksara cahaya yang membara merah: Candi Sengkala.

"Candi Sengkala..." bisik Gayatri dengan suara gemetar, wajahnya yang semula anggun kini pucat pasi bagai mayat. "Altar terlarang yang dibangun oleh Raja Pertama..."

"Apa yang ada di dalam sana?" tanya Kala, matanya menyapu deretan Aksara Kawi yang terus meluncur berputar di udara bagai rantai tulisan yang terbakar.

"Jantung Antaboga," jawab Gayatri lirih. "Keraton Atas tidak cuma mengunci sang naga. Selama tiga abad, para Priyayi menyedot cairan Tuah Antaboga Darah Magma dari altar itu untuk memberi energi pada ilmu kebal seluruh keturunan mereka, membiarkan tanah di Kota Akar membusuk dan beracun sebagai sisa limbahnya."

Kala mengepalkan tangannya keras-keras. Gigi-giginya berderak menahan amarah yang meledak di dadanya. Segala penderitaan, kelaparan, kemiskinan, dan penyakit yang membunuh ribuan orang di Kota Akar selama bertahun-tahun... semuanya bukanlah takdir, melainkan akibat sengaja dari kerakusan para penguasa di atas sana.

"Lihat ini, Kala," panggil Gayatri, menunjuk ke barisan aksara merah yang bergetar di dekat gambar Candi Sengkala.

Kala mendekat, membaca barisan sandi astronomi yang dieja oleh Gayatri:

“Ketika Rembulan Merah merayap di puncak langit, tiga belas jiwa Penenun Mantra harus ditumbalkan di atas Watu Gilang. Darah murni akan memecah segel tujuh rantai, dan Antaboga akan terbangun untuk meminum kembali tanah yang dicuri.”

Gayatri menatap Kala dengan tatapan ngeri. "Malam Purnama Darah... itu bukan cuma ritual biasa. Para Priyayi yang dipimpin oleh Patih Keraton berniat mengorbankan seluruh sisa keturunan darahku untuk membakar habis Kota Akar dan menyerap seluruh kekuatan naga bumi secara permanen!"

"Tiga belas jiwa?" Kala mengerutkan keningnya, pikirannya berputar cepat mengaitkan semua petunjuk. "Tapi kau bilang seluruh keturunanmu sudah dibantai tiga belas tahun lalu?"

Gayatri terdiam sejenak, mata keemasannya membelalak saat sebuah realitas mengerikan menghantam pikirannya.

"Mereka tidak membantai kami semua..." suara Gayatri tercekat di tenggorokan. "Mereka menangkap saudara-saudaraku dan mengurung mereka di penjara bawah tanah keraton selama tiga belas tahun terakhir... menunggu hari ini."

Tiba-tiba, pendar cahaya keemasan dari lontar itu bergetar hebat. Garis-garis peta di udara mendadak terdistorsi, memercikkan bunga api merah yang membakar ujung-ujung lontar sisik tersebut.

BZZZZT!

Bau busuk belerang pekat dan racun Bolo Upas seketika menyeruak masuk dari celah pintu batu pertapaan. Dinding goa bergetar hebat, diiringi suara retakan batu yang mencekam dari luar.

Atmosfer hangat di dalam ruangan hancur berkeping-keping.

"Mantra Ilusiku..." Gayatri terengah, memegang dadanya saat perlindungan sihirnya pecah. "Seseorang di luar sedang menghancurkan pilar pelindung tempat ini!"

Dari luar pintu batu yang tertutup akar beringin, terdengar suara gema tawa serak yang sangat dikenal oleh Kala. Tawa dari balik topeng kayu berwarna merah darah.

"Penenun Mantra terakhir dan si Bocah Tempa yang licik..." suara Sang Telik Sandi menggema membelah dinding batu, begitu dekat dan penuh kemenangan. "Terima kasih telah membukakan lontar itu untuk kami. Patih Keraton sudah tidak sabar menunggu darahmu di atas Watu Gilang, Putri Gayatri!"

Gema ledakan dahsyat menghantam pintu batu pertapaan, melempar debu dan serpihan akar ke udara.

Kala menyambar lontar yang terbakar, memasukkannya kembali ke bumbung bambu dengan satu gerakan cepat, lalu mencabut dua paku rajah meteorit terakhir dari balik sabuknya. Matanya yang tajam menatap Gayatri yang sudah mengacungkan belatinya dengan tangan berdarah.

"Perjalanan kita ke Keraton Atas sepertinya harus dimajukan malam ini, Putri," desis Kala dengan senyuman buas yang penuh keputusasaan.