BARRRRANNGGG!
Pintu batu pertapaan itu hancur berkeping-keping. Serpihan batu kali sebesar kepalan tangan berhamburan menembus kepulan asap merah pekat yang berbau belerang panas. Sebelum pecahan batu terakhir sempat menghantam lantai, bilah Keris Bisa Peneluh sudah melesat membelah udara memicu gelombang racun Bolo Upas yang seketika menghitamkan dinding goa tempat ia melintas.
Kala tidak menunggu serangan itu menyambar lehernya. Dengan refleks liar yang ditempa bertahun-tahun di jalanan Kota Akar, ia merangkul pinggang Gayatri, menjatuhkan tubuh mereka berdua ke balik meja batu hitam tempat lontar tadi ditaruh.
SLASSSHHH!
Meja batu setebal dua telapak tangan itu terbelah rapi secara horisontal, terpotong oleh tebasan racun kanuragan Sang Telik Sandi. Percikan api dan uap asam mendesis nyaring saat cairan hitam dari ujung keris merusak struktur batu.
"Ke lorong air! Sekarang!" bisik Gayatri terengah, jarinya menunjuk ke celah sempit di sudut belakang pertapaan sebuah saluran air tua yang nyaris tertutup tumpukan kitab kulit kayu.
Kala menyambar bumbung bambu di lantai, memasukkannya ke balik sabuk kainnya, lalu mencabut kantung bubuk mesiu terakhirnya. "Pegangan yang erat, Putri!"
Saat bayangan bertopeng merah itu melangkah melompati reruntuhan pintu dengan keris terangkat, Kala menghantamkan paku rajah meteoritnya tepat ke cawan tanah liat berisi minyak kencur dan air raksa di atas meja yang terbelah.
BOOOMM!
Ledakan reaksi kimia murni memicu pendar cahaya putih keemasan yang sangat silau, membutakan pandangan di dalam goa yang sempit. Sang Telik Sandi menggeram murka, mengibaskan jubah lurik hitamnya untuk menahan ledakan tersebut, memberikan jeda tiga detik yang amat berharga.
Kala mendorong Gayatri masuk terlebih dahulu ke dalam celah saluran air, lalu menyusul melompat ke dalamnya tepat saat sabetan keris beracun menghantam dinding goa di atas kepala mereka.
SPLASH!
Mereka meluncur turun di dalam saluran batu yang basah dan licin, meluncur cepat di kegelapan total sejauh puluhan meter. Air dingin menyapu wajah Kala, membakar luka-luka di kulitnya, namun ia menahan napasnya erat-erat hingga tubuh mereka terlempar keluar dari mulut saluran... dan mendarat di atas perancah kayu tua yang menggantung di ruang hampa raksasa.
KRAAK!
Perancah kayu lapuk itu berderit hebat menahan beban tubuh mereka berdua. Kala cepat-cepat berpegangan pada rantai besi raksasa yang membentang di sampingnya, sementara Gayatri berpegangan erat pada lengan baju Kala, napasnya memburu cepat.
Saat mata Kala beradaptasi dengan kegelapan di sekeliling mereka, tenggorokannya seketika tercekat.
Mereka sedang berada di dalam Lorong Penyangga—sebuah celah vertikal raksasa setinggi ratusan meter yang memisahkan Kota Akar dari Keraton Atas. Di sekeliling mereka, pilar-pilar batu buatan manusia berdiri gagah bagai tunggul-tunggul pohon raksasa, menopang beban seluruh ibu kota kerajaan di atasnya. Rantai-rantai besi sebesar tubuh orang dewasa bergelantungan di mana-mana, bergerak naik-turun secara perlahan diiringi gemuruh uap panas dan derit katrol baja.
Kala menengadah ke atas. Di kedalaman puncak lorong vertikal itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat pendar cahaya yang berbeda. Bukan cahaya kuning redup dari pelita minyak atau pendar biru kristal air Kota Akar, melainkan pendar putih keemasan yang begitu murni, hangat, dan melimpah.
Sinar Matahari.
"Itu... Keraton Atas?" bisik Kala dengan suara yang nyaris hilang di antara derit rantai raksasa.
"Tempat para Priyayi meminum cahaya," jawab Gayatri pelan, matanya menatap puncak lorong dengan kepahitan yang mendalam. "Dan tempat di mana mereka membuang jelaga dan limbah racunnya ke kepala orang-orangmu di bawah."
Kala memperhatikan sekelilingnya lebih cermat. Pipa-pipa tembaga raksasa menempel di sepanjang dinding pilar batu. Pipa-pipa itu menyedot hawa bersih dan energi dari bawah, lalu memuntahkan sisa minyak hitam, uap belerang, dan air kotor melalui saluran pembuangan kecil yang mengalir deras ke dasar tebing tepat ke arah pemukiman kumuh Kota Akar.
Rasa mual dan amarah kembali membakar dada Kala. Bertahun-tahun ia pikir Kota Akar hanyalah tempat yang ketiban sial karena takdir geografi. Ternyata, tempat tinggalnya disengaja dijadikan tempat pembuangan sampah agar kehidupan di atas tetap indah dan harum.
"Pipa uap itu," tunjuk Gayatri ke arah sebuah katrol besi besar yang membawa keranjang kargo baja naik ke atas secara berkala. "Itu jalur pasokan bahan makanan dari pasar bawah ke dapur Keraton. Kita bisa memanjat rantai utamanya."
Kala mengangguk. Tanpa membuang waktu, mereka merayap di atas perancah kayu yang gemetar, melompati celah udara hampa sejauh satu meter, dan mencengkeram erat rantai besi yang berlumur minyak pelumas panas. Rantai itu bergerak naik perlahan dengan hentakan-hentakan berat yang mengocok isi perut.
Saat mereka bergerak semakin tinggi, suhu udara di sekitar mereka berubah secara drastis. Hawa dingin, lembap, dan berbau busuk Kota Akar perlahan memudar, digantikan oleh hembusan angin segar yang membawa aroma bunga melati, kayu cendana, dan harum pembakaran dupa mahal.
Dua puluh menit memanjat dalam ketegangan yang mencekik, rantai besi itu akhirnya membawa mereka melewati sebuah celah kisi-kisi besi raksasa berukir lambang naga kerajaan.
CLANK.
Kala mendorong pintu kisi-kisi besi itu ke atas, lalu melompat keluar ke atas lantai marmer putih yang begitu licin dan dingin. Gayatri menyusul di sampingnya, menyibak selubung sutranya yang kini tercemar noda jelaga.
Kala tertegun. Matanya membelalak lebar, memandang sekeliling dengan napas tertahan.
Dunia di atas sini terasa seperti mimpi yang gila.
Tidak ada dinding tebing batu yang mengurung langit. Di atas kepala mereka, membentang kubah langit luas berwarna jingga keemasan dari matahari yang mulai terbenam pemandangan yang belum pernah dilihat Kala seumur hidupnya. Pilar-pilar granit tinggi menjulang menyangga atap-atap istana berlapis ukiran emas murni. Taman-taman gantung dipenuhi bunga cempaka dan melati yang mekar sempurna, diairi oleh kolam-kolam air jernih berdinding batu pualam.
Di sepanjang jalan setapak batu putih, para abdi dalem berjalan anggun mengenakan kain jarik sutra halus dan perhiasan perak. Tidak ada bau keringat, tidak ada bau belerang, tidak ada jeritan kemiskinan. Segala sesuatunya tampak begitu sempurna, tenang, dan menyilaukan.
Namun, di balik semua kemewahan yang megah itu, Kala bisa merasakan aura dingin yang mencekam.
Di setiap sudut pilar dan atap istana, berderet prajurit pengawal Keraton Atas berzirah baja mengilat, menggenggam tombak bermata ganda. Aura ilmu kebatinan mereka begitu pekat hasil dari bertahun-tahun menyedot energi Tuah Antaboga dari altar bawah tanah.
"Jangan menatap mereka terlalu lama," bisik Gayatri, menarik lengan baju Kala dan menyembunyikan pemuda itu di balik bayangan pilar granit raksasa. "Pengawal di sini dilatih untuk merasakan aura permusuhan. Satu tatapan salah, dan lehermu akan tertancap lima tombak sekaligus."
Kala menundukkan kepalanya, merapatkan baju lusuhnya yang penuh noda darah kering dan abu tempa. Di antara para Priyayi yang bersih dan wangi ini, keberadaan Kala seperti noda tinta hitam di atas kain sutra putih murni.
"Kita ada di bagian luar Kompleks Kepatihan," ujar Gayatri pelan, matanya menyapu deretan bangunan megah bertingkat di hadapan mereka. "Perpustakaan Agung Keraton ada di balik benteng itu. Tempat Mpu Dirga menyimpan salinan kunci Sandi Jiwa kedua sebelum dia melarikan diri ke Kota Akar."
Kala meraba bumbung bambu di pinggangnya, merasakan sisik Antaboga di dalamnya yang berdenyut semakin kencang—seolah menyambut kedekatan mereka dengan tempat kelahirannya di bawah tanah.
"Kita punya waktu sampai matahari sepenuhnya tenggelam, Gayatri," desis Kala, matanya mengunci bayangan prajurit zirah baja yang berbaris di gerbang perpustakaan. "Sebelum Telik Sandi itu menyadari kita sudah naik ke atas."